Cahaya fajar menyelinap masuk melalui celah gorden apartemen, membawa serta harapan baru yang selama ini hanya berani Siska mimpikan. Pagi ini, udara terasa berbeda. Ada aroma melati yang mulai memenuhi ruangan karena tim rias sudah datang sejak pukul empat pagi. Siska duduk di depan cermin, menatap pantulan wajahnya yang perlahan berubah. Kebaya putih bersih dengan payet-payet sederhana kini telah membalut tubuhnya, memberikan kesan anggun yang sangat bersahaja. "Mama cantik sekali," bisik Grace yang sudah rapi dengan gaun berwarna merah muda pucat. Anak itu berdiri di belakang Siska, matanya berbinar menatap sang ibu. Siska memegang tangan Grace yang berada di bahunya. "Terima kasih, sayang. Kamu juga cantik sekali hari ini." "Ma, aku tidak sabar melihat Papi Arga menangis saat melihat Mama nanti," canda Grace, mencoba mencairkan suasana tegang yang menyelimuti hati Siska. "Kenapa kamu yakin Papi Arga akan menangis, Grace?" tanya penata rias sambil memoleskan lipstik berwarn
اقرأ المزيد