Siska duduk mematung, menatap piring porselen di hadapannya yang isinya tampak begitu mewah, namun aroma makanannya mendadak berubah menjadi amis di indra penciuman. Di depan Siska, Nyonya Ratna sedang memotong daging steak dengan gerakan yang sangat presisi, sangat elegan, seolah-olah dia sedang membedah sesuatu yang menjijikkan. Setiap denting pisau yang beradu dengan piring perak itu seakan-akan berbunyi tepat di dalam dada Siska, memicu rasa ngilu yang tak tertahankan. "Siska, kamu tahu kenapa daging ini begitu mahal?" tanya Nyonya Ratna tanpa mengangkat wajahnya. Suaranya halus, namun dinginnya melebihi es di dalam gelas anggur di sampingnya. Siska berdeham kecil, mencoba mengatur suaranya yang tiba-tiba hilang. "Karena kualitasnya, Bu?" Dia tertawa kecil, tawa yang meremehkan. "Bukan hanya kualitas, tapi karena kemurnian asal-usulnya. Sapi-sapi ini dipelihara di lingkungan yang steril, diberikan makanan terbaik, dan tidak pernah dicampur dengan ternak murahan. Itulah yang
Baca selengkapnya