ANMELDENSiska mengambil cek itu dengan tangan yang kini sudah tidak gemetar lagi. Dia menatap mata Bu Ratna yang sedang tersenyum penuh kemenangan, mengira bahwa Siska telah tergoda oleh uangnya. "Apakah ini cukup untuk membayar rasa malu Anda karena memiliki anak yang mencintai rakyat jelata seperti saya, Ibu Ratna yang terhormat?" tanya Siska pelan. "Jangan banyak bicara. Isi saja angkanya, ambil uangnya, dan pergilah sejauh mungkin," jawab Bu Ratna dengan angkuh. Siska menatap cek itu sekali lagi, lalu dengan satu gerakan yang pasti, dia merobek cek itu menjadi dua. Tidak berhenti di situ, dia merobeknya lagi menjadi potongan-potongan kecil hingga menjadi serpihan kertas yang tidak berarti. Mata Bu Ratna terbelalak, wajahnya yang tadi tenang kini memerah karena marah. "Apa yang kamu lakukan, hah?! Kamu tahu berapa nilai yang bisa kamu dapatkan dari kertas itu?" "Maaf, Ibu Ratna. Arga bukan barang dagangan yang bisa saya jual kepada Anda," ucap Siska dengan nada yang sangat tegas.
Pagi itu, cuaca di luar sana tampak abu-abu, seolah-olah langit tahu bahwa badai yang sesungguhnya belum benar-benar berakhir. Arga sudah berangkat sejak pukul tujuh pagi dengan motor matic bekasnya yang kembali berulah tadi pagi. Siska sempat melihat Arga harus berkeringat mencoba menyalakan mesin motor itu di depan gedung apartemen. Hatinya perih, namun dia ingat janjinya untuk tidak mengeluh dan menjadi pendukung nomor satu bagi pria itu. Siska sedang membereskan sisa sarapan mereka yang hanya berupa roti tawar dengan selai seadanya. Di tempat parkir Apartemen, suara mesin mobil yang sangat halus berhenti di depan gedung. Bukan suara mobil biasa, melainkan suara mesin mobil mewah yang harganya mungkin bisa membeli seluruh blok apartemen kumuh ini. Seorang pria berseragam sopir turun dan membukakan pintu belakang. Dari dalam mobil, keluarlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat anggun dan mahal. Wanita itu mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra yang mel
Siska menatap mata Arga yang penuh dengan kobaran api semangat. Rasa kagum yang luar biasa menyusup ke dalam hatinya. Dia melihat sisi lain dari pria ini yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Walau anak orang kaya, Arga bukan anak manja yang hanya tahu cara menghabiskan uang, dia adalah seorang pejuang yang sedang meniti jalannya menuju kedewasaan yang sesungguhnya. "Maafkan aku, Ga. Aku janji, mulai hari ini aku tidak akan mengeluh lagi. Aku tidak akan menangisi keadaan kita lagi," Siska menghapus air mata di pipinya sendiri dengan tegas. "Aku akan menjadi pendukung nomor satu untukmu. Aku akan menjadi tempatmu bersandar saat kamu lelah." Arga tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman yang benar-benar tulus. "Nah, itu baru wanitaku. Sekarang, bolehkah pejuang ini minta tolong sesuatu?" "Apa, Ga?" "Aku kedinginan sekali, Siska. Dan perutku sudah berbunyi sejak tadi," goda Arga sambil memegangi perutnya. Siska tertawa di sela sisa tangisnya. "Cepat mandilah dengan air han
Pagi itu, suasana di apartemen sempit Siska terasa berbeda. Tidak ada lagi aroma kopi mahal dari mesin otomatis atau suara pelayan yang menyiapkan sarapan. Yang ada hanyalah aroma minyak goreng dari dapur kecil tempat Siska menggoreng telur mata sapi, dan suara bising kendaraan yang mulai memadati jalanan di bawah sana. Siska memperhatikan Arga yang sedang berdiri di depan cermin kecil yang retak di sudut ruangan. Pria itu mencoba merapikan kemejanya yang sudah dicuci manual semalam. "Kamu yakin mau pergi sekarang, Ga? Langitnya mendung sekali," tanya Siska dengan nada cemas. Dia meletakkan piring sarapan di atas lantai yang dialasi karpet. Arga menoleh dan tersenyum, meski gurat kelelahan mulai terlihat di matanya. "Aku harus pergi, sayang. Hari ini aku ada janji dengan Pak Danu. Dia satu-satunya mantan rekan bisnisku yang masih mau mengangkat teleponku setelah ayah memutus semua akses ke klien-klien besar." Siska mendekat, merapikan kerah kemeja Arga yang sedikit terlipat. "Ta
Siska berdiri dengan canggung di tengah ruang tamu kecilnya yang merangkap sebagai ruang makan dan dapur. Dia memperhatikan Arga yang sedang mencoba menaruh tas ransel hitamnya di atas kursi plastik satu-satunya yang ada di sana. Ruangan itu begitu sempit, bahkan untuk Arga yang bertubuh jangkung, setiap gerakannya seolah membuat ruangan itu semakin penuh. Siska merasa dadanya sesak, bukan karena tidak senang, tapi karena rasa minder yang kembali merayap pelan-pelan. "Ga, kamu beneran mau tidur di sini?" tanya Siska dengan nada sangsi. Dia melirik kasur busa di sudut ruangan yang sudah mulai menipis dan kehilangan bentuk aslinya. Arga menoleh dan tersenyum sangat manis. Dia melepaskan kemejanya yang kusut, menyisakan kaos dalam berwarna putih yang melekat di tubuh atletisnya. "Kenapa tidak? Kamu di sini, jadi aku juga di sini. Di mana pun kamu berada, di situ rumahku, Siska." "Tapi tempat ini tidak ada apa-apanya dibanding apartemenmu yang dulu. AC-nya sudah tua, tidak dingin sa
Keheningan malam di apartemen sempit itu terasa sangat mencekam. Siska masih terisak dalam dekapan Arga yang begitu posesif. Ruangan kecil itu seolah menjadi saksi bisu betapa hancurnya dua jiwa yang sedang mencoba saling menyakiti, padahal mereka saling mencintai. Bau alkohol dari napas Arga perlahan memudar, berganti dengan aroma keringat dan keputusasaan yang lebih tajam. Arga tidak melepaskan pelukannya. Justru, dia semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Siska, menghirup aroma tubuh wanita itu yang sangat dia rindukan. Siska bisa merasakan tubuh Arga gemetar. Pria yang biasanya tampil percaya diri dan gagah itu kini terlihat begitu rapuh di hadapannya. "Lepaskan, Ga... sesak," bisik Siska dengan suara parau. Bukannya melepaskan, Arga justru memutar tubuh Siska agar menghadapnya secara penuh. Dia mencengkeram kedua bahu Siska, tidak menyakitkan, namun cukup kuat untuk memastikan Siska tidak bisa melarikan diri lagi. Tatapan mata Arga yang merah karena kurang tidur dan
"Jika dia cukup berani untuk muncul di depanku setelah apa yang dia lakukan padamu, maka dia harus bersiap untuk kehilangan lebih dari sekadar istrinya."Kalimat Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia menatap kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja marmer. Pagi ini, sebuah mobil d
Siska menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi dengan tatapan kosong. Kantung matanya terlihat menghitam karena kurang tidur. Sentuhan hangat bibir Arga pada bekas luka bakarnya kemarin seolah masih menempel di kulit betisnya. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan fisik biasa. Bagi Siska, ciuman
"Lari, Siska! Jangan seperti mayat hidup yang hanya membuang buang oksigen di sini!" Teriakan Arga menggelegar di seluruh penjuru area VIP, memecah kesunyian pagi yang dingin. Siska tersentak, mencoba memacu kakinya lebih cepat di atas karpet treadmill yang terus berputar tanpa ampun. Napas wanita
Pagi itu Siska terbangun dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Bayangan mobil sport hitam Arga yang terparkir di seberang jalan restoran tadi malam terus menghantuinya. Pesan singkat pria itu tentang air matanya seolah menjadi bukti bahwa tidak ada satu inci pun dari hidupnya yang luput dari pe







