Pagi ini, udara di Jakarta terasa lebih berat dari biasanya bagi Siska. Di dalam mobil mewah yang bergerak perlahan menuju gedung pusat bisnis, Siska meremas jemarinya sendiri. Gaun putih yang kemarin dipilihkan Arga melekat sempurna di tubuhnya, memberikan kesan anggun sekaligus berwibawa. Namun, di balik kain sutra itu, jantungnya berdegup seirama dengan ketakutan yang masih mencoba merayap masuk. "Dingin sekali tanganmu, sayang," bisik Arga. Arga menarik tangan Siska, menyatukan jemari mereka dan memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan. Dia mencium telapak tangan Siska dengan lembut, matanya menatap Siska dengan penuh pemujaan. "Aku takut mereka tidak akan percaya padaku, Ga," ucap Siska lirih. "Hendri punya banyak relasi. Dia punya kekuatan untuk memutarbalikkan fakta." Arga tersenyum, tipe senyum yang selalu membuat Siska merasa bahwa dunia akan baik-baik saja. "Mereka mungkin punya uang, tapi kita punya kebenaran. Dan hari ini, kecantikan serta keberanianmu akan men
Baca selengkapnya