Wanita ini benar.”Suara itu, milik Rosa Atmadja, menusuk dari balik kaca buram mobil sewaan itu seperti ujung pisau es. Aisyah dan Laras membeku. Aroma parfum mahal, melampaui batas-batas kaca mobil, menyeruak ke dalam.Laras, yang secara insting mundur satu sentimeter, mencoba memulihkan suaranya. “Ibu Rosa. Selamat malam. Kami tidak menyangka bertemu Ibu di tempat seperti ini.”Rosa melepas kacamata hitamnya dengan gerakan anggun, senyumnya tidak mencapai mata. Ada kelelahan tajam di balik kelopak mata, tetapi ekspresinya menunjukkan kesombongan yang terdistorsi.“Aku sudah tinggal di sini hampir enam puluh tahun, Nak Laras,” ujar Rosa, nada bicaranya manis, berlawanan dengan ancamannya tadi. “Menduga, aku bersembunyi di mana saja. Tapi kali ini, aku hanya mengunjungi teman lama di area ini.”Laras membalas pandangan dingin itu, meluruskan posturnya di balik kemudi. “Saya rasa, kebetulan ini tidak disengaja. Apalagi, tadi Ibu menyebut soal properti. Properti Tambang Cikandi yang ba
آخر تحديث : 2025-12-22 اقرأ المزيد