“Paman… kami kira Paman sudah…”“Sudah mati, iya,” sela Paman Bima dengan dingin, sorot matanya tajam. “Tapi hari ini aku akan memastikan. Bahwa kalian—dan terutama janda itu—mati untuk selamanya! Warisan Atmadja… adalah hakku!”Udara di Ruang Rapat Dewan Direksi Atmadja menjadi tebal, panas akibat asap konsleting layar yang masih mengepul, namun dingin oleh kehadiran sosok yang seharusnya sudah lama terbaring di dalam peti. Paman Bima Atmadja, yang lebih dari 30 tahun diceritakan hilang/meninggal oleh Ayah Atmadja (ayah Arif dan Adrian), kini berdiri di sana, rapuh namun menakutkan, botol kaca kecil berisi cairan merah kental ia angkat tinggi-tinggi seolah itu adalah jimat pembawa maut.Wajah Adrian Atmadja membeku dalam keterkejutan total. Ia tersentak, tidak hanya karena terputusnya video final wasiat Arif, tetapi karena penampakan mendadak pamannya yang dianggapnya hanya dongeng lama Dinasti.“Ini jebakan, Paman!” jerit Adrian, bukan kepada Bima (Pamannya), tetapi kepada Bima Satr
آخر تحديث : 2026-01-02 اقرأ المزيد