“Tidak apa-apa, Laras,” balas Aisyah. Ia mendongak, matanya berkaca-kaca. Semua kekejaman fisik Bima dan ancaman finansial Baskara tidak membuat ia se-gentar ini. Ancaman pada emosinya jauh lebih buruk."Tuan Rahmat benar," kata Aisyah, suaranya parau, mengejutkan Adrian, Laras, dan hakim.Ruang sidang hening. Aisyah berjalan perlahan ke tengah ruangan, pandangannya tidak lepas dari Rahmat.“Saya mengakui pernikahan siri itu,” lanjut Aisyah. "Saya mengakui niat saya saat itu adalah untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik kami, apa yang dijanjikan, tetapi diambil secara tidak adil. Tapi Tuan Rahmat tahu, di ujungnya, saya mundur. Saya menjual bagian saya untuk kebebasan, bukan untuk kekayaan. Ada perbedaan besar."Laras memandang Aisyah. Inilah yang ia maksud dengan kebenaran emosional. Aisyah berbicara tanpa skrip hukum."Arif... suami saya..." Aisyah menahan napas sejenak, tatapannya beralih ke Adrian. "Dia melihat lebih dari masa lalu saya. Dia melihat ke masa depan. Ket
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-10 อ่านเพิ่มเติม