"Raffi, pacarnya sudah datang. Sudahlah!""Iya, kita semua teman lama. Jarang-jarang ngumpul, jangan bikin suasana jadi jelek!""Hawa memang minum alkohol, makanya dia panggil pacarnya buat jemput. Kamu malah suruh dia minum lagi?"Beberapa teman yang akrab dengan Raffi langsung mendekatinya, ekspresi mereka terlihat canggung sambil mencoba menenangkannya. Pada saat yang sama, mereka memberi isyarat kepada kami supaya cepat pergi.Melihat hal itu, aku langsung paham. Pria di depanku ini pasti teman sekelas yang selama ini terus mengganggu Hawa. Pantas saja Hawa memanggilku. Dari sikapnya, seolah-olah Hawa sudah jadi miliknya.Melihat wajah Raffi yang tidak bersahabat, aku sedikit mengernyit. Demi menghargai Hawa di depan teman-temannya, aku tidak berniat memperpanjang masalah. Aku berbalik hendak membawa Hawa pergi.Namun, dia masih saja tidak mau berhenti. Dari belakang terdengar tawanya yang dingin. "Hehe, kupikir siapa. Hawa, seleramu buruk sekali dapat pengecut begini!"Kalau tadi
더 보기