Berlagak cuek, aku duduk di kursi makan dengan Mas Hanif. Dia memberikan satu kotak makanan untukku lalu mengambil dua botol air mineral yang dibelinya. "Makan, Ri. Laper banget, tadi mau makan di sana cuma ingat kamu. Makanya aku beliin ini sekalian. Sempat kirim pesan ke Mbak Yuni katanya kamu sudah nyuapin Rafqa jadi aku beliin pizza aja buat camilannya." Mas Hanif mulai makan nasi dengan menu ayam dan lalapannya. "Makasih banyak loh, Mas. Jadi ngerepotin. Lain kali nggak usah beginilah, Mas. Aku sudah masak kok, takutnya nanti mubadzir nggak ada yang makan." "Adalah, kalau Rama nggak mau biar aku yang makan. Lagipula aku yang ngerepotin kamu, Ri. Jagain Rafqa itu nggak mudah, capek karena terlalu aktif." Laki-laki di depanku itu tersenyum tipis lalu kembali dengan suapannya. "Pinter kok dia, Mas. Nurut lagi. Pokoknya serulah main sama dia. Makin betah di sini kalau aku jagain dia tiap hari." Aku mendongak sekilas, kedua mataku bersirobok dengannya. Seperti biasa aku buru-buru
Last Updated : 2025-12-18 Read more