Dengan gerakan kasar, ia membanting jas ke sofa, suara kain menampar kulit sofa bergema di ruangan. Lalu, tanpa kata tambahan, ia memilih keluar kamar. Pintu dibanting lagi, meninggalkan getar di dada Nayara yang berdiri kaku.Nayara duduk di tepi ranjang. Jemarinya meremas ujung seprai, tubuhnya gemetar, dan akhirnya air mata jatuh juga. Tapi tangis itu bukan tanda menyerah. Itu tangis penuh luka, penuh amarah, penuh tekad yang perlahan-lahan menguat.Kalimat Arga berputar kembali di telinganya: “Kamu yang membuatku tampak tidak punya kendali atas rumah tanggaku sendiri.”Ia merasakan sesuatu meletup dalam dirinya. Seolah Arga lebih peduli pada bagaimana ia terlihat di mata orang lain, daripada pada kenyataan bahwa keluarganya sedang diguncang oleh kehadiran perempuan lain.“Kalau aku memalukan bagimu,” bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya pecah, “maka aku akan tunjukkan bahwa aku bisa berdiri tanpa bergantung pada siapa pun. Bahkan tanpa kamu.”Air matanya berhenti, berganti tata
Last Updated : 2026-01-25 Read more