“Kadang orang dewasa harus bekerja sama, Nak,” Nayara berusaha menenangkan. “Itu hanya urusan pekerjaan. Tapi percayalah, Ayah tetap sayang sama kamu, sama Shaila, sama Bunda.”Dharma menatap lama, seolah mencoba membaca apakah kata-kata itu sungguh benar atau hanya pelipur lara. Akhirnya ia mengangguk, meski wajahnya masih murung. “Aku cuma nggak mau orang bilang aku nggak punya keluarga utuh. Aku nggak mau diketawain.”Tangisan yang Nayara tahan akhirnya luruh juga. Ia cepat-cepat mengusap pipinya, berpura-pura tersenyum. “Keluarga kita utuh, Sayang. Selama kita saling sayang, nggak ada yang bisa memisahkan.”Shaila, yang sedari tadi diam, akhirnya ikut bersuara. “Bunda nangis, ya?” tanyanya polos.“Enggak, Sayang. Angin sore aja yang bikin mata Bunda perih.”Shaila ikut memeluk pinggang ibunya. “Aku sayang Bunda. Aku sayang Kak Dharma. Kita bertiga selalu bareng, kan?”“Selalu,” jawab Nayara, memeluk mereka berdua erat.***Bersamaan dengan itu sore menjelang di kantor Arga, dia ma
Last Updated : 2026-02-01 Read more