Arthur dan Kian menoleh bersamaan.Kini, tak jauh dari pandangan mereka, seorang anak kecil memegang senapan mainan berdiri memandang keduanya.Kian berdiri dari duduknya. Tatapannya terus tertuju ke anak laki-laki ini. “Arthur, dia ….” Arthur ikut berdiri..“Niel, kamu jangan nakal.”Sebelum Arthur bicara, suara seorang laki-laki sudah menggema di ruangan ini.Niel, anak laki-laki yang baru saja menembakkan peluru mainan ke kepala Arthur, langsung berlari ke pria yang menginterupisnya.“Niel tidak nakal. Niel hanya sedang main.” Anak kecil berusia empat tahun ini berdiri di depan Jonathan–ayahnya–teman Arthur.“Masuklah dulu, bilang ke Mama, jangan terlalu lama di dalam,” ucap Jonathan pelan ke putranya.Tatapan Kian dan Arthur kini tertuju pada Jonathan. Kian melihat anak kecil tadi berlari masuk ke dalam, sebelum Jonathan memandang ke arah Kian dan Arthur.“Jo.” Arthur langsung menghampiri pria ini, sahabatnya.Jonathan memeluk sejenak pada Arthur. “Senang bisa melihatmu lagi.” Se
Dernière mise à jour : 2026-05-27 Read More