Kian terdiam sejenak. Dia kembali menarik ingatannya ke pembicaraan mereka sebelumnya. Detik berikutnya, sepasang mata indah Kian membola lebar saat mengingat apa yang Arthur inginkan."Arthur ... jangan bilang kalau kamu benar-benar cuti dan kita akan ...." Kian menggantung kalimatnya, dia menatap sang suami dengan binar tidak percaya sekaligus haru yang mulai membuncah di dadanya.Arthur terkekeh pelan melihat ekspresi terkejut istrinya. Dia mempererat pelukannya di pinggang Kian, lalu menunduk sedikit agar wajah mereka sejajar. "Ya, Ki. Aku benar-benar mengambil cuti. Mulai besok, selama tujuh hari ke depan, aku sepenuhnya milikmu dan Kaylan. Tidak ada urusan kantor, tidak ada berkas HW. Company, dan tidak ada rapat mendadak."Arthur melepaskan rangkulannya pada Kian sebentar, lalu berlutut di depan Kaylan. Dia mengacak rambut putranya itu dengan gemas. "Kita akan liburan sekeluarga.” Tatapan Arthur lalu terangkat ke arah Kian, dan dia kembali berkata, “Aku sudah memesan tiket pes
Read more