Aku masih begeming ditempat. Dengan napas terengah, Genta berlari kearahku. Merangkulku dan menangis di bahuku. Genta adalah sahabat baikku sejak kecil. Selama aku dibawa ke SMA Senin, aku bahkan lupa tentangnya. Buka melupakan, tapi masalah yang terlalu rumit yang membuatku lupa segalanya yang berhubungan dengan dunia manusia. Genta menatapku dalam. Sisa air matanya masih terlihat. Ia menakup kedua pipiku, seraya berkata. “Ini beneran lo? Ini beneran Caesar yang gue kenal kan?” Aku menarik senyum simpul, lalu mengangguk. Mendapat jawaban, Genta kembali memelukku dengan sangat erat. Aku sampai kesulitan untuk sekedar menarik napas. Aku melirik Alana ragu. “Dia gak bakal bisa liat gue,” bisik Alana, seraya menjawab keraguanku. Anggukan samar, sebelum Genta kembali melepaskan pelukannya. “Gue tahu apa yang terjadi sama bokap nyokap lo,” cicit Genta. Cowok itu sudah menunduk penuh rasa bersalah. “Harusnya gue nganter lo pulang pas kita balik dari puncak itu. Harusnya gue gak
Last Updated : 2026-01-04 Read more