“Caesar,” “Caesar,” “Sayang..,” Mataku perlahan terbuka. Sinar putih menyilaukan membuat aku sedikit membuang muka. Aneh. Tak ada rasa sakit. Tak ada darah yang tadi merembes memenuhi jubah sihir ku. Eh. Kedua mataku kembali membola, ketika aku menyadari, kalau aku sudah tidak mengenakan jubah sihir lagi. Tekanan di dalam dada semakin meningkat. Tubuhku terasa amat panas. “Apa aku benar-benar sudah mati?” Mataku kembali menelanjangi setiap sudut tempat asing ini. Masih ada banyak cahaya. Namun sinarnya, tidak semenyilaukan tadi. Namun, ketika sebuah sentuhan hangat menyapa keningku, detak jantungku seperti berhenti. Napasku ringan. Tubuhku seperti sedang di rengkuh oleh rasa rindu yang akhirnya bisa terobati. Seutas senyum tulus terbit dari balik sinar putih itu. Perlahan, wajah itu mulai terlihat dengan jelas. Air mataku mengalir, di iringi dengan isak yang perlahan menjadi raungan.
Last Updated : 2026-01-28 Read more