Ledakan cahaya menyambar, menggulung di udara, memaksa Yuzi membentangkan perisai sihir untuk melindungi para murid yang masih berlarian. Pepohonan tercabut dari tanah, bangunan asrama berderak keras, dan langit seolah akan terbelah dua. Rasa panas itu kini berubah menjadi sesuatu yang lebih kejam. Bukan hanya di dada, tapi di seluruh tubuhku. Seakan ada ribuan jarum api yang terus menusuk kedalam pembuluh darahku. Penglihatanku mulai berkunang-kunang, dan suara di sekitarku seolah terdistorsi, memanjang, layaknya suara di dalam air. Semakin Arvas menembus void itu. Semakin sakit tubuhku. Aku terus menjerit, meronta dengan kedua tangan memeluk tubuhku sendiri. Aku terus menjerit, karena tubuhku sudah tidak sanggup menahan sesuatu yang ingin keluar. Rasanya sakit sekali. Aku semakin mengeratkan pelukan ditubuhku, berusaha menahan kekuatan yang semakin bertambah besar itu. “Ber-hen-ti,” gumamku terbata. Nyaris tak terdegar, layaknya sebuah doa
Last Updated : 2025-12-21 Read more