Tasya menenggak udara kosong karena keceplosan, Rafa yang beranjak remaja tentu saja daya pikirnya jauh lebih baik ketimbang saat dia masih anak-anak.“Aeee itu, kamu salah denger Rafa! Mending kamu mandi dulu sebelum Bapak dateng, habis itu ajak Ira belajar.” Tasya berusaha mengalihkan pembicaraan.Alis Rafa bertaut, wajahnya penuh dengan pertanyaan, ia tampak tak puas dengan pernyataan Tasya.*** “Pak, Rafa minta tolong aku mau bicara sama Ibuk!” pintanya. Rafa tetap bersikeras ingin berbicara dengan Angel-ibunya.“Emm iya nanti!” jawab Malikh acuh.“Tapi Pak, Rafa mau sekarang sudah kangen sekali!” kekehnya.“Kamu ini ngeyel sekali dibilangin mirip sama Ibukmu! Kalau Bapak bilang nanti ya nanti, cerewet sekali lama-lama tak kirim juga kamu ke Ibukmu!” ucapnya lancang.Rafa mematung, wajahnya mulai memerah, kelopak matanya sedang membendung air matanya agar tak mengalir karena takut Malikh semakin emosi.“Hayok nangis sekarang! Laki kok nangis, kamu tu jangan apa-apa ditangisin malu
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-28 อ่านเพิ่มเติม