LOGIN“Bagaimana para saksi? Sah?”“Sah!” Mentari pagi kala itu terasa sangat hangat di antara kerumunan orang yang menjadi saksi pernikahan dua orang insan yang saling menemukan penyembuhan lukanya masing-masing. Angel terlihat sangat manis dengan balutan gaun putih susu, bermotif simpel namun tampak elegan semakin memancarkan aura ketenangan raut wajah Angel yang memang sejuk, sedangkan Erik tampak gagah dengan tampilan pakaian yang memang diserasikan dengan gaun pasangannya tak banyak pernak-pernik membuat keduanya tampil elegan dengan auranya masing-masing.“Ibuk ndak nyangka kamu bakalan ada di posisi seperti ini lagi Nduk! Maafin Ibuk yo selama ini Ibuk ndak punya kuasa buat nolongin kamu.” Surti menangis haru menyaksikan pernikahan putri pertamanya, bahkan tampilan suasana seperti ini tak pernah singgah dibenaknya setelah kejadian masa lalu yang begitu suram yang terjadi di antara mereka.Angel meraih tangan ibunya, menggenggamnya lembut seakan saling menguatkan, “Buk, ju
Tak ada senyum merekah, rumah berantakan, anak tak terurus.“Sialan Erik! Dia pasti sengaja ngasi tahu semua ini ... sekarang manusia itu bisa puas tapi aku ndak akan nyerah untuk merebut Angel dari hidupku! Dia pikir aku akan takut dengan dia begitu saja? Cuihhhh!” Amarah Malikh sudah mendidih.“HAHAHHAHAHAAA!” Tasya tertawa lebar tanpa rasa sungkan sedikit.BRAKKK! Malikh menggebuk meja di depannya, rahangnya mengeras tatapannya tajam mengarah ke Tasya.“Apa? Kamu mau marah? Suami macam apa kamu Mas di depan istri sah kamu masih ngarepin mantan istri secara terang-terangan!”“Seorang istri yang secara terang-terangan tidur dengan laki-laki lain ndak pantas membandingkan dirinya dengan kelakuanku! Kamu itu ndak usah sok baik Tasya, kamu pikir kamu adalah orang yang bersih dari dosa?”“Haduh susah ngomong sama orang yang buta hatinya! Kamu ndak pernah ngaca atau bagaimana sih? Kamu lihat dong dirimu sekarang, cacat ndak bisa kerja! Terus kamu mau sok-sokan ngerebut mantan
“Buk aku ke rumah sakit dulu yo! Loh, semua orang pada ke mana kok ndak ada siapa-siapa? Anak-anak juga ndak ada tumben pergi ndak ada bilang-bilang.” Pagi ini Angel tampak kemas namun terburu-buru, ia seperti kebingungan melihat kondisi pagi ini rumahnya sepi melompong tak ada siapa pun yang biasanya pagi-pagi akan diisi suara riuh pertengkaran dari Rafa dan Aira.“Hmm, aku lagi buru-buru anak-anak pasti ikut Ibuk aman! Mudah-mudahan Erik ndak kenapa-napa.” Rupanya yang membuat pagi Angel was-was adalah sesosok yang tengah mengisi hatinya. Pagi-pagi sekali Angel yang panik bergegas pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Erik baik-baik saja. Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi, semua orang yang dihubungi Angel pagi ini seakan enggan mengangkat telepon darinya. Ia merasakan ada sesuatu hal yang aneh, pasalnya saat ia pergi ke rumah sakit tak ada nama pasien atas nama Erik di sana, perasaan Angel pun makin tak karuan.TINGG! [Suara pesan masuk]“Loh,
“Astagfirullahalazim Buk! Apa ini? Kok banyak banget dari siapa?”“Loh, bukan kamu yang mesen? Tadi Ibuk kira kamu yang mesen jadi Ibuk terima saja, terus kalau bukan kamu siapa?”Drrrt! Drrrt! Drrrt! [Gawai Angel berdering][Halo, assalamualaikum Rik! Ada apa tumben nelpon pagi-pagi sekali?][Waalaikumsalam, a-anu Ngel ... emmmm][Kamu mau ngomong apa to Rik? Kok ndak jelas gini!][Ekhmm, itu barangnya sudah sampai?][Barang? Maksudmu barang yang pagi ini baru sampai di rumahku itu kamu yang ngirim?][Lebih tepatnya sih Mama Ngel! Aku juga sudah ngasi tahu kalau memang mau ngasi secukupnya saja tapi ya taulah Mama ndak dengerin aku, maaf yo jadi menuh-menuhin rumah kamu.][Yak ampun, aku kira tadi paket nyasar! Ini kok banyak banget, sampai repot-repot begini loh aku jadi ndak enak ... lain kali tolong bilangin mama kamu jangan repot-repot begini lagi!][Aku tahu kamu bakalan bilang kayak begini Ngel makanya aku sudah ngasi tahu Mama duluan tapi tetap saja ya seperti yang kamu lihat
“Aku penasaran deh bagaimana caranya kamu bisa nanganin ini semua? Padahal Malikh itu termasuk orang yang sangat nekat!”“Bagaimana yo jelasinnya? Ya intinya karena itu kamu! Aku rela ngelakuin apa pun itu demi kamu.”“Ndak mungkin karena itu saja kan! Malikh itu bukan orang yang mudah dibodoh-bodohi apa lagi cuma sekadar diancam.” Angel merasa ragu dengan penjelasan sederhana dari Erik.“Hah, panjang ceritanya nanti kamu juga bakalan tahu sendiri pelan-pelan.” Erik masing enggan mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.“Tapi bener kan kamu ndak papa? Kevin, ibuk sama nenek?”“Aku dan mereka semua baik-baik saja Ngel kamu tenang saja!”“Bagaimana aku bisa tenang Rik saat orang-orang terdekatku dalam bahaya! Aku bahkan sampai mikir yang enggak-enggak karena Malikh itu orangnya nekat banget, aku cuma mau mastiin kalau kalian sudah bener-bener aman sekarang!”***“Nduk! Kenapa hal sebesar ini kamu ndak cerita ke Ibuk sih!” sesalnya.“Maaf Buk, bukannya aku ndak mau cerita tapi aku cuma nd
Erik sudah menanti hari ini karena saatnya ia menyudahi pertanyaan-pertanyaan yang telah bersarang di benaknya beberapa hari ini, ia akan segera menyelesaikan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.“Jadi bener to kamu orangnya!” tekannya.Malikh menatap tajam seakan menantang, “Kenapa? Kamu nyariin aku selama ini? Oh selamat akhirnya kita ketemu!”“Jangan banyak basa-basi! Aku ke sini mau menyelesaikan urusanku denganmu! Jauhi Angel!” ucapnya tanpa langsung ke intinya.Dahi Malikh mengerinyit, “Heh! Harusnya kamu yang jauhi Angel karena dia adalah istriku!”“Tepatnya mantan istri! Dia sekarang adalah calon istriku, berhenti menghayal Malikh!”“Kamu yang harusnya berhenti menghayal! Aku dan Angel sudah punya anak dua dan anak-anak itu ingin orang tuanya kembali lengkap! Apa kamu tega merusak kebahagiaan mereka?”“Ini yang aku bilang menghayal! Mereka itu sudah lupakan kamu Malikh, mana mau mereka mengingat kejadian kejam yang sudah menimpa mereka selama hidup sama kamu!”“Dasar lic
“Berani-beraninya dia giniian aku dan anakku! Kejadian ini ndak bakal aku lupain, awalnya aku masih menyimpan harapan besar untuk mereka berdua bisa berubah!”“Kenapa? Ada apa ini Nduk?”“Buk, Mas Malikh sudah keterlaluan sekali! Dia hari ini berani ngancem aku pakek Aira, aku khawatir Buk sedangka
“Ini pasti sudah benar rumahnya!”“Mas Rafa itu Bapak bukan?” tanya Aira sembari menyingkap horden dari balik jendela.Rafa mengerinyitkan dahinya, ia tampak berpikir ulang memastikan penglihatan adiknya tak salah pasalnya mereka berdua sudah lama tak berjumpa dengan Malikh.“Iya bener kamu Ra, itu
“Kamu masih kerja di tempat itu?”“Iya, kenapa? Kamu mau gantiin aku kerja memangnya?”“Apa kamu ndak ada niatan nyari kerja lain?”“Apa Mas? Aku ndak salah dengar kamu tanya apa tadi? Niat nyari kerja lain? Harusnya aku yang bertanya begitu ke kamu, dasar laki-laki ndak tahu diri!”“Mau sampai ka
“Kamu berani banget ya ternyata, mentang-mentang nggak ada suamimu di rumah! Kenapa nggak ke rumahku saja sih!”“Lagi males ke luar aku Do! Di sini saja, mumpung dia tidak ada di rumah jadi kita bebas kan! Lagian aku bukannya takut sama dia karena kalau dia lagi di rumah pasti ributnya minta ampun,







