Alya langsung tersipu, semburat merah tipis muncul di pipinya. "Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Alya, mencoba mengalihkan. Rama mengangguk lambat. "Baik... namun buruk." Alya kembali mengernyitkan dahi, menatap menantunya—ah, mantan menantunya—itu dengan heran. "Maksudnya?" Rama menyunggingkan senyuman nakal yang memikat. "Baik karena akhirnya aku bisa mengambil keputusan tegas yang seharusnya sudah kulakukan sejak beberapa tahun lalu. Namun buruknya... kamu gak ada di sisiku saat aku pergi dari mansion itu. Kamu seperti sengaja menghindar dariku," keluh Rama, menumpahkan seluruh ganjalan hatinya tanpa ada yang ditutupi lagi. Alya tersenyum tipis, ada guratan sesal di wajahnya. "Maaf ya, Sayang. Aku... aku..." "Ssst, it's okay, Bu... emm, maksudku, Al." Rama terkekeh canggung. "Rasanya masih agak aneh ya, sekarang aku memanggilmu langsung dengan nama." Alya menggelengkan kepala pelan. "Seharusnya memang begitu, kan? Aku mulai berpikir... mungkin sekarang kita bisa
Last Updated : 2026-05-19 Read more