Rama berdiri mematung di ambang pintu, menatap dua perempuan itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Namun, saat netranya menangkap sosok mertuanya yang tersungkur, matanya membulat sempurna. Tak bisa menahan diri, Rama berlari kecil masuk ke dalam rumah, bahkan melewati Nadia begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Rama langsung menyambar tubuh Alya, membantunya berdiri dengan sangat hati-hati, lalu mendekapnya erat. Dekapan itu bukan sekadar bantuan, melainkan luapan rasa khawatir yang mendalam. Nadia yang menyaksikan adegan itu hanya bisa melongo, tak percaya dengan pemandangan di depan matanya. "Mas, apa-apaan kamu?!" teriak Nadia dengan suara melengking. Sadar akan kehadiran istrinya, Rama segera merenggangkan pelukannya pada tubuh Alya, meski tangannya masih enggan melepaskan bahu mertuanya itu. "Kenapa kamu berkata begitu kasar pada ibumu? Lihat, bibirnya sampai berdarah! Kamu apakan dia?!" dalih Rama cepat. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Nadia tidak c
Last Updated : 2026-05-13 Read more