"Papa?" panggil Rama segera setelah ia mengangkat sambungan telepon itu. "Ram, kamu sudah sampai di Eropa?" tanya Tansri di ujung sana, suaranya terdengar berat namun penuh perhatian. Rama mengangguk pelan, seolah sang ayah bisa melihatnya. "Iya, Pa. Sudah." “Mungkin Papa baru bisa ke sana lusa. Apa kamu bisa menunggu sebentar lagi? Atau… kamu mau saat pulang nanti mampir dulu ke Malaysia?” tanya Tansri hati-hati. Rama terdiam sesaat, menimbang keputusannya sebelum menjawab pelan, "Baik, Pah. Mungkin aku akan mampir ke sana sebelum pulang. Dan... aku membawa mertuaku." Terdengar kekehan kecil dari seberang telepon. "Luar biasa kamu, Ram. Bukannya membawa istrimu, malah membawa mertuamu. Baiklah, Papa tunggu kedatangan kalian," ucap Tansri sebelum akhirnya sambungan terputus. Rama mengulum senyum getir. Ia mengklaim dirinya benar-benar berengsek; bagaimana mungkin ia mengunjungi toko kenangan ibunya bersama mertuanya, bukan sang istri sah? Namun, ia segera menepis piki
Read more