"Al! Alea, tunggu!"Suara teriakan yang familiar itu membuat langkahku terhenti tepat di tangga lobi fakultas.Matahari sore bersinar terik, membakar kulit, tapi rasanya jauh lebih hangat dan manusiawi dibandingkan udara dingin di Penthouse.Aku menoleh.Rian. Rambutnya berantakan, kemeja flanel kusut, wajah berkeringat dan senyumnya terlalu lebar untuk seseorang yang hanya ingin menyapa.Dia terlihat normal. Normal yang dulu aku anggap biasa, tapi sekarang terasa seperti kemewahan asing."Lo kok buru-buru banget sih?" Rian akhirnya sampai di sampingku, napasnya sedikit terengah. "Gue panggilin dari koridor lantai dua nggak nengok-nengok."Tanpa ragu, tangan Rian meraih lengan atasku. Cengkeramannya ringan, hangat, dan bersahabat.Jenis sentuhan yang dulu kuanggap biasa saja antar teman, tapi sekarang terasa asing setelah berhari-hari hidup dalam aturan ketat Arjuna."Sori, Yan," jawabku canggung. Aku refleks melirik jam tangan, panik kalau-kalau aku telat melapor lokasi. "Gue... gue h
Huling Na-update : 2026-01-06 Magbasa pa