Arjuna meletakkan nampan bubur itu ke atas meja nakas dengan bunyi tak yang tajam.Dia tidak duduk. Dia berdiri menjulang di samping ranjang, tubuhnya yang besar menghalangi cahaya lampu dari lorong, menciptakan bayangan yang menelanku."Makan," perintahnya lagi. Satu kata. Datar. Tanpa negosiasi.Aku memalingkan wajah ke arah dinding. Menutup mata. Mengunci bibirku rapat-rapat.Aku sudah bertahan dua hari. Perutku memang menjerit minta diisi, tapi harga diriku berteriak lebih keras untuk menolak. Jika aku makan sekarang, itu artinya dia menang. Itu artinya aku menerima kurungan ini."Saya tidak suka diabaikan, Alea."Hening. Aku tetap diam, memeluk lututku yang gemetar.Tiba-tiba, tangan besar Arjuna mencengkeram rahangku.Jari-jarinya yang kuat menekan pipiku, memaksaku menoleh menghadapnya. Cengkeraman itu tidak menyakitkan, tapi tekanannya cukup untuk membuat tulang rahangku terbuka secara refleks."Buka," geramnya rendah.Aku mencoba melawan, menggelengkan kepala. Tapi dia menaha
Last Updated : 2026-01-09 Read more