"Saya terima."Dua kata itu meluncur dari bibirku, berat dan penuh keputusasaan.Aku menunggu Arjuna tersenyum. Aku menunggu dia membantuku berdiri, atau mungkin langsung menelepon rumah sakit untuk menyelamatkan Ibu.Tapi dia tidak melakukan keduanya.Arjuna melepaskan tanganku yang tadi menggenggam telapak tangannya. Dia berdiri perlahan, meninggalkan aku yang masih bersimpuh di karpet tebal dengan air mata mengering di pipi.Dia berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan.Glug. Glug. Glug.Suara cairan merah pekat yang dituang ke dalam gelas kristal memecah keheningan ruangan. Bunyi itu terdengar begitu nyaring, begitu santai, kontras dengan gemuruh panik di dadaku.Arjuna menyesap wine-nya sedikit, lalu berbalik menatapku. Wajahnya datar. Tidak ada kemenangan, tidak ada belas kasihan."Kamu bilang kamu terima," ucapnya pelan. "Tapi saya ragu kamu mengerti apa yang sebenarnya kamu terima."Dia berjalan mendekat, gelas wine bergoyang pelan di tangannya."Lima ratus juta untuk d
Last Updated : 2026-01-10 Read more