Aku duduk di kursi kemudi. Mesin mobil masih mati.Sudah sepuluh menit berlalu sejak aku keluar dari pintu rumah berpagar hitam itu. Kakiku tetap diam, menolak pindah ke pedal gas. Tanganku mencengkeram setir berbahan kulit hingga ruas jariku kaku dan kebas.Aku menatap lurus ke depan. Ke arah jalanan kompleks perumahan yang mulai sepi menjelang sore.Aku datang membawa kemarahan, tapi keluar membawa rasa iba.Pikiranku memutar ulang isakan keras Tante Mirna. Wajah pucatnya yang menua. Keputusasaannya yang lahir dari asumsi bodoh. Aku berangkat ke sini mengira aku akan keluar dengan perasaan lega setelah mengkonfrontasi pengkhianatannya. Aku siap untuk mencabik-cabik logikanya.Kenyataannya, menang tidak pernah terasa sehampa ini.Tante Mirna bukan monster kejam dari perusahaan saingan. Dia hanya seorang ibu yang merasa gagal, iri, dan mencari kambing hitam. Dan aku kebetulan berdiri di tempat yang paling mudah untuk disalahkan.Aku menekan tombol start. Mesin menderu memecah kehening
Last Updated : 2026-05-12 Read more