Pukul sepuluh malam.Suasana di dalam penthouse terasa sangat tenang. Aku baru saja menekan sakelar lampu utama di kamar Elang hingga ruangan itu berubah temaram, hanya menyisakan pendar lampu tidur berbentuk roket di sudut meja. Anakku sudah tertidur lelap setelah setengah jam dibacakan buku dongeng.Baru saja aku menutup pintu kamar Elang, layar ponsel di saku celanaku menyala terang menembus bahan kain katun.Getarannya terasa konstan. Aku merogoh saku, menarik keluar benda pipih itu dan melirik layarnya. Panggilan masuk via aplikasi obrolan.Nomor Singapura. Raina.Aku berjalan menjauh dari pintu kamar anakku, menuju ke arah ruang keluarga. Jariku menggeser tombol hijau ke kanan."Halo."Suaraku membelah keheningan malam. Tidak ada nada permusuhan, tapi juga tidak ada basa-basi keramahan."Halo, Alea."Suara Raina di seberang sana terdengar berbeda dari biasanya. Tidak ada ketegasan sinis atau manipulasi tajam. Suaranya bimbang, mengambang di antara keraguan dan keputusasaan."Kon
Last Updated : 2026-05-21 Read more