MasukSetelah menghabiskan setengah porsi bubur dan meminum obatnya, Nala kembali tertidur karena efek kantuk yang kuat. Keluarganya perlahan meninggalkan kamar agar si bungsu bisa beristirahat total.
Sore harinya, disaat semua anggota keluarganya sedang berkumpul di ruang tengah, Nala masih meringkuk di balik selimut. Keadaannya sudah lebih baik, namun tenaganya masih belum benar-benar pulih. Matanya sempat terbuka sesaat ketika suara tawa kecil dari ruang tengah samar-samar terdengar, lalu kembali terpejam—bukan untuk tidur. Tubuhnya terasa lebih ringan dibanding pagi tadi, tapi setiap kali ia mencoba menggerakkan kaki atau tangannya, lelah itu masih menempel seperti sisa demam yang enggan pergi. Nala menarik selimut lebih rapat, menghela napas panjang, dan memilih bertahan di ranjang, menikmati ketenangan sore hari, sementara kehangatan rumah tetap terasa meski ia sendirian di kamar. Tak lama, pintu kamarnya terbuka. Dimas yang berencana menginap malam ini masuk dengan seseorang di belakangnya. "Dek, ada Hanggara. Mau balikin tas kamu yang ketinggalan di mobil kemarin, sekalian jenguk katanya." Nala tersentak kecil. Ia buru-buru memperbaiki letak selimut dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan gerakan kikuk. Dimas membantu Nala untuk duduk bersandar di kepala ranjang, setelah itu ia meninggalkan keduanya dengan pintu kamar yang dibiarkan terbuka. "Duduk di kasur aja Mas, nggak ada kursi," ucap Nala. "Maaf saya nggak bawa apa-apa," ucap Hanggara sambil duduk di tepi tempat tidur. "Niat saya ke sini cuma mau nganterin tas kamu, tapi malah dapat kabar kamu lagi sakit." sambungnya. Nala menggeleng pelan, mencoba memberikan senyum tipis meski bibirnya masih terasa kaku. "Nggak apa-apa, Mas. Mas Hanggara udah datang nganterin tas ini aja saya udah sangat berterima kasih. Malah saya yang nggak enak hati karena ngerepotin Mas terus." Hanggara meletakkan tas kecil itu di atas nakas, tepat di samping gelas yang sudah kosong. Pandangannya kemudian beralih ke wajah Nala, menilik rona kemerahan yang masih tersisa di pipi gadis itu. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan, namun gerakannya terhenti di udara sebelum benar-benar menyentuh dahi Nala. Ia seolah tersadar dan menarik tangannya kembali dengan canggung. "Demamnya udah turun?" tanya Hanggara, suaranya melembut. "Udah agak mendingan, Mas. Tadi pagi yang paling parah," jawab Nala lirih. Ia menunduk, memperhatikan jemarinya yang saling bertaut di atas selimut. "Oh, iya, tadinya saya mau nganterin jaket sama selimut ke rumah Mas. Tapi sayanya malah sakit, Mas bawa nanti ya? Kayaknya udah dicuci sama Mama," Hanggara mengangguk pelan, tatapannya masih tertuju pada Nala yang tampak begitu mungil di balik selimut tebalnya. Ada keheningan sejenak yang menyelimuti kamar itu, hanya terdengar suara riuh rendah obrolan Dimas dan Banyu dari ruang tengah yang sedang membahas masalah mesin motor. "Mas," "Ya?" "Makasih ya buat yang semalam, saya nggak tahu gimana nasib saya kalau nggak ketemu sama Mas." "Jangan dipikirin lagi," jawab Hanggara cepat, suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya. "Semua orang pasti akan ngelakuin hal yang sama kalau ngelihat seseorang kesulitan di tengah jalan. Saya hanya kebetulan lewat." Nala tersenyum tipis. Ia tahu Hanggara hanya berusaha bersikap rendah hati, padahal ia sadar betapa merepotkannya mengurus orang yang belum terlalu dikenalnya yang menangis sesenggukan di tengah hutan jati dalam kondisi hujan deras dan motor mogok. "Tetep aja, Mas... saya merasa berutang budi," gumam Nala pelan. Hanggara terdiam sejenak, matanya menatap jendela kamar Nala yang menampilkan cahaya sore. "Kalau memang merasa berutang budi, bayar dengan cara cepat sembuh. Jangan bikin orang rumah khawatir lagi." Nala terdiam, meresapi setiap kata-kata Hanggara. Rasa hangat yang tadi hanya berasal dari selimut, kini mulai merambat ke hatinya. Ia memberanikan diri mendongak, menatap pria yang kini duduk di tepi ranjangnya dengan jarak yang cukup dekat. "Iya, Mas. Saya juga sadar kalau saya salah banget," ucap Nala tulus. Hanggara tidak langsung menyahut. Ia justru terdiam cukup lama, menatap jemari Nala yang masih bertaut di atas selimut seolah sedang menimbang sesuatu yang besar. Suasana mendadak berubah menjadi sangat intens di antara mereka berdua, padahal suara tawa anggota keluarganya masih terdengar samar dari luar. "Sebenarnya," Hanggara memulai, suaranya kini terdengar lebih rendah dan sungguh-sungguh. "Saya merasa perlu mengantar tas ini sendiri karena saya ingin memastikan kondisi kamu. Dan mungkin... karena saya ingin mengakui sesuatu yang sudah saya simpan sejak beberapa hari yang lalu." Nala mengernyitkan dahi, bingung. "Beberapa hari lalu?" Hanggara mengangguk kecil, sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Saya tahu ini mungkin terlalu cepat, dan saya sadar sekarang bukan waktu yang tepat karena kondisi kamu yang lagi sakit. Tapi, saya rasa saya harus mengatakannya sekarang," Hanggara mengembuskan napas panjang, mencoba memantapkan suaranya. "Nala, saya tertarik sama kamu." Nala terpaku. Seluruh otot tubuhnya seolah membeku di balik selimut tebal itu. Ia tidak pernah menyangka pria sedewasa dan seberwibawa Hanggara akan mengatakan hal seberani itu, terlebih saat ini seluruh keluarganya hanya berjarak beberapa langkah dari pintu kamar yang terbuka. "M-mas Hanggara..." suara Nala tertahan di kerongkongan. "Mas nggak lagi bercanda, kan? Atau ini karena Mas kasihan lihat saya semalam?" Hanggara menatap manik mata Nala dengan saksama, sorot matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kehangatan yang jujur. "Saya bukan tipe laki-laki yang menjadikan perasaan sebagai bahan bercanda, Nala. Dan saya bukan merasa kasihan." Hanggara terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. "Kita pernah bertemu di sawah waktu itu, kamu ingat?" Tanya Hanggara. Nala mengangguk pelan, ingatan itu seketika berputar di kepalanya. Tentu saja ia ingat. Pertemuan pertama mereka terjadi saat ia sedang mencari udara segar di persawahan tak jauh dari rumah, di mana Hanggara tiba-tiba menyapanya dan memperkenalkan diri. (Bab 3) "Jangan bilang..." Nala menggantung kalimatnya, matanya membulat menatap Hanggara. "Ya," potong Hanggara tenang. "Di situ saya mulai tertarik sama kamu." Nala merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Pengakuan itu meluncur begitu tenang dari bibir Hanggara, namun dampaknya sanggup menggetarkan seluruh pertahanan diri Nala. Bayangan pagi itu di sawah seketika berputar kembali di benaknya. Saat itu Nala pikir obrolan mereka cuma basa-basi biasa, tapi ternyata bagi Hanggara, momen singkat itu adalah awal dari segalanya. "Mas... tapi kan waktu itu kita cuma ngobrol bentar banget, saya malah langsung pulang waktu itu," cicit Nala, masih berusaha mencari logika di tengah debaran jantungnya yang menggila. "Justru karena sebentar itu, saya jadi pengin punya waktu yang lebih lama sama kamu," balas Hanggara mantap. Tatapannya tidak menuntut, melainkan seolah sedang meminta izin untuk benar-benar masuk ke kehidupan Nala. Hanggara kembali menatap wajah Nala yang kini tampak sangat menggemaskan dengan semburat merah di pipinya. "Jadi, boleh kan kalau saya ingin mengenal kamu lebih jauh?" Nala menunduk dalam, mencoba menyembunyikan senyum yang sulit ia tahan. Sambil memilin ujung selimutnya, Nala mengangguk malu-malu. Jawaban tanpa suara itu rupanya sudah lebih dari cukup bagi Hanggara. Hanggara mengembuskan napas lega, sebuah binar tipis yang jarang terlihat kini terpancar dari matanya. Ia bangkit berdiri dari tepi kasur dengan gerakan yang tetap tenang, meski debaran di dadanya sebenarnya tak jauh beda dengan apa yang dirasakan Nala. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu menyodorkannya pada Nala. "Tahap pertama, masukkan nomor kamu di sini." Nala terpaku menatap ponsel pintar berwarna gelap yang disodorkan padanya. Jemarinya yang masih terasa sedikit bergetar perlahan meraih benda itu. Dengan jantung yang berpacu liar, ia mengetikkan deretan angka nomor ponselnya dengan sangat hati-hati. Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel itu dengan gerakan kaku. "Udah, Mas," bisik Nala, nyaris tak terdengar. Hanggara menerima ponselnya kembali. Ujung jemari mereka sempat bersentuhan sejenak, mengirimkan sensasi hangat yang membuat Nala refleks menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik selimut. Hanggara langsung menyimpan kontak tersebut, lalu memasukkannya ke saku celana dengan gerakan mantap. "Terima kasih, ya. Kalau begitu saya pamit pulang, udah mau Maghrib. Semoga cepat sembuh," Nala mengangguk mengiyakan, "Iya, Mas, makasih. Hati-hati di jalan," ucapnya pelan. Hanggara memberikan satu anggukan kecil. Ia kemudian melangkah pergi dengan langkah tegap, meninggalkan aroma parfum maskulin yang samar serta sebuah pengakuan yang sanggup mengusir sisa-sisa rasa sakit di tubuh Nala. Nala baru berani mengangkat wajahnya sepenuhnya saat suara deru motor Hanggara terdengar menjauh dari halaman. Ia segera menarik bantal dan menutupi wajahnya, mencoba meredam pekikan kecil yang hampir meledak dari bibirnya. Namun, ketenangannya tak bertahan lama karena tak sampai satu menit kemudian, pintu kamarnya diketuk dengan tidak sabar. Mbak Tari masuk dengan senyum jahil yang sudah terkembang lebar. "Cie... yang dijengukin cowok ganteng kok mukanya merah banget? Padahal AC nyala lho ini," godanya sambil duduk di tepi ranjang, tepat di bekas tempat duduk Hanggara tadi. "Mbak Tari!" rengek Nala malu, semakin menyembunyikan wajahnya di balik bantal sementara kakak iparnya itu tertawa puas karena berhasil memergoki wajah "demam" yang berbeda dari adiknya. "Mbak tadi lihat dia nyodorin Hp, lagi minta nomor HP ya?" Tari menaik-turunkan alisnya, membuat Nala benar-benar ingin menghilang saat itu juga. Ternyata, meski pintu dibuka, radar 'kakak ipar' memang tidak bisa diremehkan. *** Tbc.Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu
Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb
Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb
Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila
Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak
Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap







