Share

Bab 11

Author: widiabd
last update publish date: 2025-12-26 14:08:50

Hanggara memperhatikan ekspresi Nala dengan kepuasan yang sulit disembunyikan. Ada binar di mata gadis itu yang membuat rasa soto di hadapannya sendiri terasa jauh lebih nikmat dari biasanya.

"Kan, saya bilang juga apa," sahut Hanggara pelan.

Selama beberapa saat, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan mangkuk. Nala yang tadinya merasa sangat canggung, perlahan mulai menikmati suasana. Hanggara bukan tipe pria yang banyak bicara saat makan, namun kehadirannya memberikan rasa aman bagi Nala. Ada ketenangan yang menular dari cara pria itu menyendok kuah atau sesekali menyeka butiran keringat di pelipisnya dengan tisu.

"Panas, ya?" tanya Hanggara menyadari Nala yang juga mulai menyeka dahi dengan tisu. Ia lalu meraih remote kecil di atas meja dan menaikkan kecepatan kipas angin gantung yang berada tepat di atas mereka. "Soto ini memang paling enak dimakan pas lagi panas-panasnya, tapi efek sampingnya ya begini."

Nala terkekeh, merasakan hembusan angin sejuk yang menyapa wajahnya. "Nggak apa-apa, Mas. Justru kalau nggak berkeringat, sensasi makan sotonya jadi kurang dapet."

Hanggara tersenyum tipis, seolah setuju dengan filosofi sederhana Nala tentang makanan. Ia menyesap teh hangatnya pelan, lalu meletakkan gelasnya kembali ke meja kayu yang berat itu. Matanya beralih menatap Nala dengan rasa ingin tahu yang lebih dalam, tidak lagi sekadar membahas urusan kuah soto.

"Ngomong-ngomong, Nala," panggil Hanggara, "Dulu sekali, Pak Bakti pernah bilang kalau dia punya anak perempuan yang kuliah di Jakarta. Ternyata kamu, ya. Ngambil jurusan apa?"

"Manajemen, Mas," jawab Nala singkat setelah menelan suapannya. "Di salah satu universitas swasta di sana."

Hanggara mengangguk-angguk, namun tatapannya seolah sedang menimbang sesuatu. Ia meletakkan sendoknya, menyilangkan tangan di atas meja, dan menatap Nala dengan sorot mata yang sedikit lebih serius.

"Biasanya, orang yang kuliah di Jakarta itu mimpinya tinggi. Pengin kerja di gedung-gedung tinggi di Sudirman, atau seenggaknya di perusahaan multinasional yang gajinya besar," Hanggara terdiam sejenak, suaranya merendah. "Tapi kamu malah pulang. Kenapa?"

Nala sempat tertegun mendengar pertanyaan itu. Ia mengaduk sisa sotonya perlahan, mencari kata-kata yang pas untuk membungkus kenyataan yang sebenarnya tidak terlalu heroik. "Karena disuruh pulang sama Mama," ujarnya kemudian, lengkap dengan senyum kecutnya.

Hanggara menaikkan sebelah alisnya, tampak tertarik. "Dan kamu nurut gitu aja?"

"Awalnya enggak. Saya sempat bersikeras mau coba kerja dulu di sana, minimal setahunlah buat cari pengalaman. Tapi ternyata, dunia kerja nggak semudah yang saya bayangin pas masih kuliah. Baru jalan tiga bulan, saya udah nyerah. Bukan karena kerjaannya, tapi lebih ke tekanan dari atasan yang rasanya sulit banget dihadapin," Nala menghela napas pendek, seolah beban itu sempat mampir kembali di pundaknya.

"Akhirnya Mama tahu kalau saya udah nggak kerja lagi, terus saya dipaksa pulang. Ancamannya kalau nggak mau pulang, uang jajan bakal di stop," Nala terkekeh pelan, menertawakan nasibnya sendiri. "Padahal waktu itu saya udah sempat apply ke beberapa perusahaan lain. Tapi ya, kayaknya takdir memang mau saya di sini dulu."

Hanggara mendengarkan penjelasan itu tanpa memutus kontak mata. Tidak ada nada menghakimi dalam tatapannya, justru ada semacam pemahaman yang dalam di sana. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak berpikir sejenak sebelum menanggapi.

"Kadang, apa yang kita sebut menyerah itu sebenarnya cuma cara semesta buat bilang kalau tempat kita bukan di situ," sahut Hanggara, suaranya terdengar sangat tenang. "Jakarta memang tempat yang bagus buat belajar seberapa kuat kita, tapi bukan berarti semua orang harus menghabiskan hidupnya di sana untuk dianggap sukses."

Nala sedikit terkejut dengan tanggapan itu. Ia mengira Hanggara akan menganggapnya manja karena tidak tahan dengan tekanan atasan.

"Mas nggak ngerasa saya payah karena lebih milih pulang?" tanya Nala ragu.

Hanggara menggeleng pelan. "Sama sekali enggak. Tahu kapan harus berhenti dan pulang itu butuh keberanian yang nggak kalah besar, Nala. Banyak orang di luar sana yang stres dan menderita karena maksa bertahan cuma demi gengsi. Di sini, seenggaknya kamu berguna buat Papa kamu."

Ia terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terasa tulus. "Lagi pula, kalau kamu tetap di Jakarta, mungkin saya nggak akan punya teman makan soto hari ini."

Kalimat itu sukses membuat jantung Nala berdebar tak karuan. Ia buru-buru menunduk, pura-pura sangat tertarik dengan suwiran ayam yang masih tersisa di mangkuknya, sementara Hanggara hanya terkekeh pelan melihat reaksi gadis itu.

Nala akhirnya meletakkan sendok, mencoba mengendalikan rona merah di pipinya. "Mas Hanggara sendiri? Mas juga punya gelar sarjana, kan?"

"Iya, saya dulu kuliah bisnis. Sama kayak kamu, saya sempat kerja di sana," jawab Hanggara sembari menatap cangkir tehnya yang masih mengepul. "Tapi tiba-tiba ayah saya sakit, dan saya harus pulang buat ngurus usaha yang dibangunnya dari nol itu."

Ucapan Hanggara barusan persis seperti yang dikatakan Bu Raras kemarin. Mendengarnya langsung dari bibir pria itu memberikan efek yang berbeda bagi Nala. Ada nada tanggung jawab yang besar, namun terselip sedikit kerinduan pada masa-masa di mana ia bisa mengejar impiannya sendiri.

"Berarti kita sama-sama pulang karena keluarga, ya, Mas?" gumam Nala pelan.

Hanggara mengangguk, sorot matanya melembut. "Awalnya berat. Rasanya kayak semua yang udah kita bangun di kota besar sia-sia. Tapi lama-lama saya sadar, menjaga usaha orang tua itu punya kepuasan yang nggak bisa dibayar pakai gaji kantor mana pun. Apalagi kalau melihat orang tua kita bisa istirahat dengan tenang karena tahu usahanya ada yang meneruskan."

Nala terdiam, meresapi setiap kata Hanggara. Ternyata di balik sosok kaku sang juragan beras, ada hati yang sangat berbakti. Ia menyadari bahwa garis hidup mereka ternyata bersinggungan di titik yang sama, yaitu tentang ekspektasi yang harus dikompromikan demi pengabdian.

"Saya kira, orang sehebat Mas Hanggara nggak pernah ngerasain yang namanya terpaksa," ucap Nala lirih, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.

Hanggara tertawa hambar, suaranya terdengar lebih manusiawi dari biasanya. "Semua orang punya porsi terpaksanya masing-masing, Nala. Bedanya cuma gimana cara kita ngebawainnya. Kalau kita ngejalaninnya sambil terus noleh ke belakang, ya bakal terasa beban. Tapi kalau kita fokus ke depan, ternyata banyak hal menarik yang nggak akan kita temuin di kota-kota besar."

Pria itu kemudian menegakkan duduknya, menatap Nala dengan cara yang membuat gadis itu merasa benar-benar diperhatikan. "Kayak soto ini. Di manapun banyak yang jual, tapi nggak ada yang rasanya seperti ini, kan? Sama kayak hidup di sini. Mungkin kelihatannya biasa saja, bahkan kadang terasa terpaksa buat yang nggak terbiasa. Tapi kalau kita udah tahu takarannya, rasa sederhananya justru nggak akan bisa digantikan sama kemewahan mana pun."

Nala tersenyum tulus, ia merasa beban di pundaknya soal kegagalan karirnya di Jakarta sedikit terangkat setelah mendengar penuturan pria di hadapannya.

"Udah habis?" tanya Hanggara sambil melirik mangkuk Nala yang hanya menyisakan sedikit kuah.

"Udah, Mas. Kenyang banget."

"Kalau gitu, ayo kita pulang. Saya tadi izin ke Pak Bakti cuma buat ajak makan siang," ucap Hanggara sembari bangkit berdiri.

Nala dengan sigap menyambar tasnya. "Ayo, Mas. Saya yang bayar, ya. Kan janjinya saya yang mau traktir."

Hanggara tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis dan melangkah lebih dulu dengan langkah-langkahnya yang panjang menuju meja kasir. Nala yang menyadari gelagat itu langsung berusaha mengejar, namun Hanggara sudah lebih dulu sampai di depan pria paruh baya bercelemek hijau tadi.

"Ih, Mas! Kan saya yang mau traktir!" protes Nala setengah berbisik karena tidak enak dilihat pelanggan lain.

Hanggara tetap tenang, ia sudah mengeluarkan dompet kulitnya tanpa menoleh ke arah Nala. "Simpan aja uangnya, kamu bisa traktir saya kapan-kapan lagi."

Nala mendengus kesal, ia tidak percaya dengan ucapan Hanggara barusan. Kalimat "kapan-kapan lagi" itu terdengar seperti sebuah janji manis yang sulit ia penuhi, karena Nala tahu, kalaupun ada kesempatan berikutnya, laki-laki itu pasti tidak akan membiarkan Nala yang membayar.

***

Tbc.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Nala duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Tidak ada lagi isak tangis yang meledak-ledak. Air matanya kini jatuh perlahan, diam-diam, mengalir tanpa suara. Ia seolah sudah kehabisan energi, terlalu lelah bahkan untuk sekadar meraung keras di keheningan malam ini. Tatapannya kosong. Keputusan itu sudah terucap. Hubungannya dengan Hanggara sudah berakhir. Nala tidak pernah membayangkan kisah mereka akan menemui jalan buntu secepat ini. Enam bulan mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tapi bagi Nala, waktu itu cukup untuk merangkai rencana-rencana kecil yang ia simpan diam-diam di kepalanya. Obrolan santai tentang masa depan, candaan ringan soal bentuk rumah impian, hingga bayangan sederhana tentang Hanggara yang duduk di ruang tamu, berusaha mengobrol akrab dengan keluarganya. Ia memberikan seluruh kunci kepercayaannya kepada seseorang yang ternyata masih menyimpan kunci cadangan untuk masa lalunya. Nala menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang me

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Parkiran rumah sakit sore itu terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sana telah habis terhisap oleh deretan mesin kendaraan yang menderu. Namun, kebisingan lalu lintas di luar gerbang sama sekali tak mampu memecah keheningan yang mencekam di kepala Hanggara. Ia mematung di samping mobilnya, menatap nanar layar ponselnya yang gelap dan dingin, sedingin hatinya saat Nala memutuskan sambungan telepon secara sepihak tadi. Hanggara sudah mencoba menelepon kembali berkali-kali, namun, tidak ada jawaban. Nala benar-benar menutup pintu untuknya. Kalimat yang diucapkan perempuan itu terus bergema, menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. 'Mas tuh udah nggak ada kepentingan apa pun sama dia.' Hanggara menunduk dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Nala benar. Sangat benar. Dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menata kepingan pikirannya yang porak-poranda sejak pagi. Saat telepon dari Rania m

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala terdiam. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang, jemarinya memutih tanpa ia sadari. Detak jantungnya berubah tak beraturan. Perempuan itu memanggil Hanggara dengan nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Angga. Selama ini, Nala selalu memanggilnya Hanggara atau Gara. Semua orang di desa pun begitu. Tidak pernah sekali pun Nala mendengar ada orang yang memanggilnya sesantai itu. Panggilan itu terdengar sangat akrab. "Saya lagi telepon sebentar, kamu balik aja ke kamar. Takut Ibu kamu bangun dan nyariin, nanti saya nyusul." "Lagi telepon siapa sih? Ibu ya? Aku mau ngobrol dong, udah lama nggak ngobrol sama Ibu." Nala menutup matanya rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu menyakitkan. Suara perempuan itu terdengar jelas. Terlalu jelas untuk dianggap salah dengar. Nada bicaranya ringan, manja, seolah ia sudah sangat terbiasa berada di sekitar Hanggara, bahkan dengan sadar ikut campur dalam percakapan pribadi lelaki itu. "Mas," panggil Nala, menco

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Nala sempat mengira, menjalin hubungan dengan laki-laki sedewasa Hanggara akan selalu adem-ayem. Enam bulan belakangan, perhatian Hanggara memang sukses membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun hari ini, ketenangan itu terusik. Sosok yang biasa mengisi hari-harinya itu seolah raib ditelan bumi. Pesan yang Nala kirimkan sejak pagi belum menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Sebenarnya Nala mencoba maklum. Ia tahu kesibukan Hanggara tidak main-main, mulai dari mengurus toko, memantau sawah, hingga mengecek peternakan. Tapi, apa sesulit itu meluangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar agar ia tidak dilanda kebingungan seperti ini? Dengan helaan napas panjang, Nala kembali melirik layar ponselnya. Ruang percakapannya dengan Hanggara masih sama seperti pagi tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Putus asa, ia menaruh benda pipih itu ke dalam laci meja. Nala memutuskan beranjak, menghampiri ayahnya yang sedang sibuk me

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Makan siang berlangsung hangat dan penuh suara. Pak Gunawan mendominasi percakapan dengan cerita-cerita lama tentang toko beras mereka, sesekali melontarkan lelucon yang membuat Nala terkekeh tanpa sungkan. Bu Sulis sibuk menyendokkan lauk ke piring Nala meski Nala sudah berulang kali bilang sudah cukup. Dan Hanggara duduk di sampingnya, makan dengan tenang, sesekali berbicara seperlunya. Tapi Nala sadar, setiap kali gelak tawanya meledak karena ulah Pak Gunawan, Hanggara selalu menoleh sebentar ke arahnya. Ia tidak ikut tertawa, tapi sudut bibirnya selalu bergerak naik. Hanya sedikit. Cukup untuk ditangkap oleh seseorang yang sudah hafal betul ekspresi wajahnya. Dan entah sejak kapan, Nala menjadi salah satu orang itu. "Ayo, Nduk, ke depan. Katanya mau lihat bunga Ibu." Nala pun mengekor di belakang Bu Sulis. Hanggara yang tadinya hendak duduk di ruang tengah bersama ayahnya, memutuskan untuk ikut menyusul. "Anggrek-anggrek ini dibeliin sama Bapak," tunjuk Bu Sulis pada deretan a

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Nala mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suara wanita itu begitu renyah, kontras dengan bayangan 'calon mertua galak' yang sempat melintas di benaknya. Ia refleks merapikan blusnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu menyalami tangan wanita itu dengan takzim. "S-siang, Bu. Saya Nala," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh debar jantungnya sendiri. "Iya, Nala, Ibu udah denger soal kamu dari Gara. Ayo, ayo masuk, Nduk. Kebetulan Ibu udah bikin teh sama gorengan tadi." ujar Ibu Hanggara sambil merangkul bahu Nala, bersikap sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hanggara yang berdiri di belakang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ibunya yang begitu bersemangat. Ia menatap punggung Nala dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega sekaligus bangga melihat bagaimana Nala dengan mudah mencuri hati ibunya di detik pertama bahkan tanpa melakukan apapun. Nala menoleh cepat, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Hanggara justru tersenyum tipis, memberi kode melalui

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 25

    Setelah sekitar satu jam bergulat dengan bumbu dapur, aroma harum sayur lodeh, tempe goreng dan sambal goreng mulai memenuhi ruangan. Nala baru saja selesai menata piring-piring di atas meja makan kayu yang besar ketika terdengar suara pintu depan terbuka diikuti salam yang diucapkan bersamaan. "N

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 24

    Begitu melewati pintu jati yang kokoh, Nala disambut oleh suasana rumah yang sangat tenang. Di ruang tamu yang luas itu, seorang pria paruh baya yang masih tampak bugar duduk di sofa tunggal. Pria itu memakai koko putih dan sedang meletakkan korannya begitu menyadari kehadiran tamu."Nah, Pak, ini

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 22

    "Ya sudah, Pak Bakti, saya pamit dulu ya. Mau masak buat makan siang, nanti keburu bapaknya anak-anak pulang dari sawah," pamit Bu Lastri sambil menenteng tas belanjanya. Ia sempat melirik Nala sekali lagi dengan kerlingan usil. Sementara Nala masih sibuk dengan kegiatannya.Sepeninggal Bu Lastri,

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 18

    Tak lama kemudian, mobil SUV itu perlahan berhenti tepat di depan pagar rumah Nala. Jam di dasbor menunjukkan pukul 19.56. Hanggara benar-benar seorang pria yang memegang kata-katanya; ia mengembalikan Nala tepat waktu sebelum jam malam yang ditentukan sang ayah berakhir.Hanggara mematikan mesin m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status