Mag-log inMalam itu, suasana rumah Nala terasa lebih hangat dari biasanya. Suara gemericik air hujan yang kembali turun di luar tidak membuat Nala merasa kedinginan seperti malam sebelumnya. Ia sudah berpindah posisi, duduk bersandar di tumpukan bantal sambil menyesap teh hangat yang dibuatkan ibunya.
Getaran pendek dari ponselnya membuat Nala nyaris menjatuhkan cangkir tehnya. Satu pesan baru. Dari nomor asing. 0812-xxxx-xxxx: Ini saya, Hanggara. Udah minum obatnya? Jangan di skip, biar cepat sembuh. Nala menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang ingin merekah lebar. Ia segera menyimpan nomor itu dengan nama 'Mas Hanggara', lalu jemarinya bergerak lincah mengetik balasan. Nala: Udah, Mas. Tadi abis Mas Hanggara pergi, aku langsung makan dan minum obat. Hanya butuh beberapa detik sampai status di bawah nama Hanggara berubah menjadi 'typing'. Mas Hanggara: Bagus. Oiya, saya baru sadar pas sampai rumah. Ternyata jaket sama selimut saya masih ketinggalan di kamu ya? Tadi saya benar-benar lupa mau bawa. Nala menepuk dahinya pelan. Ia baru ingat kalau tadi ia sendiri yang menawarkan agar barang-barang itu dibawa pulang oleh pemiliknya, tapi rupanya obrolan mereka tadi benar-benar mengalihkan fokus keduanya. Nala: Eh iya. Maaf ya Mas, tadi aku juga lupa ngingetin pas Mas mau pamit. Mas Hanggara: Nggak apa-apa, simpan aja dulu. Anggap aja itu alasan supaya saya ada alasan buat mampir ke rumah kamu lagi. Sekarang istirahat ya, jangan main HP terus. Nala menggigit bibir bawahnya, menahan pekikan kecil yang hampir lolos dari bibirnya. Alasan yang dibuat Hanggara barusan terasa begitu manis sekaligus berani. Ia segera mengetikkan 'iya' lalu mematikan layar ponselnya dan membenamkan wajahnya ke bantal, mencoba meredam detak jantungnya yang mendadak berpacu liar. Di luar, suara hujan masih terdengar, namun malam ini Nala merasa sangat hangat, bukan karena demamnya, tapi karena pesan singkat dari pria yang baru saja mengenalkan warna baru di hidupnya. --- Tiga hari berlalu, dan kondisi fisik Nala sudah pulih sepenuhnya. Namun, kesehatan mentalnya justru sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu mulai uring-uringan. Sejak pesan singkat di malam itu, ponselnya sepi dari notifikasi nama 'Mas Hanggara'. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada pertanyaan sudah makan atau belum, apalagi menanyakan kabarnya! Nala duduk di teras depan sambil mengaduk jus jeruknya dengan tidak bersemangat. Semenjak Nala sakit, Nala belum dibolehkan untuk membantu ayahnya di warung, alasannya karena takut Nala kembali sakit. Jadi sudah beberapa hari ini Nala berdiam diri di rumah. Hanya berdua dengan ibunya. Dimas dan Tari sudah kembali ke kota kemarin lusa, sementara Banyu di bengkel. "Mana katanya tertarik? Tertarik kok kayak hilang ditelan bumi," gumam Nala kesal. Ia membanting pelan ponselnya ke atas meja, lalu sedetik kemudian meraihnya lagi karena takut ada pesan masuk yang terlewat. Tiba-tiba, ponsel Nala bergetar panjang. Jantungnya sempat melonjak, namun seketika bahunya merosot saat melihat nama Mas Banyu yang tertera di layar. "Halo, Mas?" jawab Nala malas-malasan. "Dek, tolongin Mas dong. Mas lagi repot banget di bengkel, ada barang yang ketinggalan di meja makan. Tolong anterin ke sini ya, penting banget!" Nala menghela napas panjang. "Mas, di rumah kan nggak ada motor. Motornya dibawa Papa ke warung." "Jalan kaki aja bentar ke warung Papa, pinjam motornya. Mas tunggu ya," Nala mendengus kesal, namun ia tidak punya pilihan. Dengan perasaan dongkol, ia mengambil barang yang dimaksud Banyu lalu keluar rumah dan berjalan kaki menuju warung sang ayah yang untungnya tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan, pikirannya masih dipenuhi rasa kesal pada Hanggara. 'Katanya tertarik, tapi tiga hari tanpa kabar itu maksudnya apa?' gumamnya sambil menendang kerikil di jalan. Setelah meminjam motor sang ayah, Nala segera meluncur ke bengkel Banyu. Sesampainya di sana, ia memarkirkan motor dan berjalan masuk mencari kakaknya. Namun, langkahnya mendadak membeku di ambang pintu. Di sudut bengkel, di dekat meja kerja Banyu, berdiri seorang pria dengan kemeja yang sedikit berantakan dan wajah yang tampak letih. Pria itu tengah berbicara serius dengan Banyu, namun begitu mendengar langkah kaki mendekat, ia menoleh. Itu Hanggara. Mata mereka bertemu. Hanggara tampak terkejut, lalu guratan lelah di wajahnya sedikit memudar digantikan oleh rasa bersalah yang kentara. "Nah, akhirnya datang juga!" seru Banyu tanpa dosa. "Makasih ya adikku yang paling cantik!" Nala berjalan mendekat dengan kaku. Ia berusaha memasang wajah sedingin es, meski jantungnya berdebar tidak karuan. "Iyalah paling cantik, adik Mas kan cuma aku," ucap Nala singkat, sama sekali tidak melirik ke arah Hanggara. "Aku mau jajan di depan, minta uang." Ia mengulurkan tangannya pada sang kakak. Banyu pun dengan sukarela memberikan selembar uang lima puluh ribu yang ia ambil dari dompetnya pada Nala. Setelah uang diterima, Nala membalikan tubuhnya dan meninggalkan keduanya tanpa banyak bicara. "Nala..." panggil Hanggara pelan. Suaranya terdengar sedikit parau. Nala terpaksa menoleh, namun tetap melanjutkan langkahnya. "Eh, ada Mas Hanggara." Hanggara menghela napas panjang, ia melangkah mengikuti Nala sementara Banyu mulai sibuk dengan pekerjaannya. "Maaf, Nala. Saya benar-benar minta maaf karena menghilang tiga hari ini." "Nggak apa-apa, Mas. Saya bukan siapa-siapa juga, nggak perlu minta maaf," balas Nala sinis. Ia bahkan mengganti kata 'aku' menjadi 'saya' lagi. Padahal sebelumnya ia sengaja mengubahnya menjadi 'aku' agar tidak terlalu kaku. "Bukan begitu," sela Hanggara cepat. "Tiga hari lalu saya mendadak harus ke kota karena ada masalah sama usaha saya di sana. Semuanya kacau dan saya harus urus sendiri. Saking paniknya, ponsel saya ketinggalan di rumah. Ini saya baru banget balik dan langsung ke bengkel Banyu karena mobil saya juga bermasalah." Hanggara menatap Nala dengan sungguh-sungguh. "Saya nggak bisa kasih kabar karena saya nggak pegang ponsel, dan saya nggak hafal nomor kamu. Saya merasa bersalah sekali karena udah menghilang tanpa kabar." Penjelasan itu membuat Nala tertegun. Kekesalannya yang menumpuk selama tiga hari perlahan mulai terkikis. Ternyata pria ini tidak sengaja mengabaikannya, melainkan memang terjebak dalam situasi sulit tanpa alat komunikasi. "Jadi... HP-nya ketinggalan?" tanya Nala memastikan, suaranya sudah sedikit melunak. "Iya. Benar-benar ketinggalan di rumah," jawab Hanggara lega melihat Nala mulai mau bicara. "Tadi rencananya setelah dari sini saya mau langsung ke rumah kamu. Mau ambil jaket, sekaligus menjelaskan semuanya." ujarnya, sementara Nala mengembuskan napas panjang. Hanggara sedikit merunduk, mensejajarkan tatapannya dengan Nala. "Masih marah?" Nala membuang muka, mencoba menyembunyikan senyum yang hampir terbit. "Saya nggak marah, cuma kesel, tapi sekarang keselnya tinggal dikit. Lagian, Mas Hanggara ceroboh banget sih jadi orang." Hanggara tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus di telinga Nala. "Iya, saya mengaku salah. Jadi, sebagai gantinya, nanti sore saya jemput ya? Kita cari udara segar... kalau diizinkan." Nala terdiam sejenak, sengaja menggantung jawabannya untuk memberikan sedikit efek jera pada pria di hadapannya itu. Ia menatap Hanggara yang masih menunggu dengan raut wajah penuh harap, sebuah ekspresi yang jarang sekali terlihat pada sosok yang biasanya tenang dan berwibawa tersebut. "Kalau Papa nggak izinin gimana?" pancing Nala, matanya menyipit jail. Hanggara tersenyum tipis, tangannya masuk ke saku celana dengan gaya yang tetap elegan meski bajunya agak kusam. "Nggak apa-apa, tapi saya bakal coba maksa biar diizinkan." Nala tidak bisa menahan tawa kecilnya lagi. Rasa hangat yang familiar itu kembali menyelimuti hatinya, menghapus sisa-sisa kegalauan yang sempat membuatnya uring-uringan sejak pagi. "Ya udah, nanti sore tanya sendiri sama Papa," jawab Nala akhirnya sambil memutar kunci motor yang masih ada di tangannya. "Saya mau jajan dulu di depan, laper gara-gara kesel sama orang." "Nala," panggil Hanggara lagi sebelum gadis itu benar-benar menjauh. Nala menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Ganti lagi jadi 'aku' ya? 'Saya' yang tadi kedengarannya jauh banget, saya nggak suka," ucap Hanggara dengan nada rendah yang terdengar seperti sebuah permintaan tulus. Pipi Nala seketika terasa panas. Tanpa menjawab, ia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju warung jajan di depan bengkel, tidak ingin Hanggara melihat wajahnya yang kini pasti sudah semerah tomat. Di belakangnya, ia bisa mendengar sayup-sayup suara karyawan Banyu yang menggoda Hanggara. "Kasihan deh Mas Hanggara diambekin sama ceweknya." Hanggara hanya membalasnya dengan gumaman pelan, namun matanya tetap tertuju pada punggung Nala yang menjauh. Baginya, tiga hari di kota dengan masalah usahanya yang menumpuk tidak ada apa-apanya dibanding kecemasan saat membayangkan Nala akan benar-benar menutup pintu untuknya. Kini, setelah melihat senyum tipis gadis itu kembali, bebannya terasa benar-benar terangkat. *** Tbc.Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu
Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb
Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb
Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila
Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak
Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap







