LOGINLangkah Hanggara yang tenang membawanya keluar dari warung soto, diikuti Nala yang masih sedikit bersungut karena kalah cepat di kasir. Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan panas yang terik hingga menciptakan bayangan pendek yang pekat di aspal parkiran.
Hanggara membukakan pintu mobil untuk Nala, sebuah gestur sederhana yang entah mengapa terasa begitu manis bagi Nala. Begitu mereka berdua berada di dalam mobil yang sejuk karena embusan AC, suasana kembali sunyi. Hanggara menghidupkan mesin, lalu perlahan memundurkan SUV hitamnya keluar dari pelataran parkir, meninggalkan bangunan kolonial itu. Ia sesekali melirik Nala yang sedang membuang muka ke arah jendela. "Kenapa? Masih belum terima karena saya yang bayar?" tanya Hanggara. Nala menoleh, bibirnya mengerucut tipis. "Ya iyalah, Mas. Kan saya udah bilang, saya yang bakal traktir. Niatnya mau bayar utang, eh malah nambah utang baru." Hanggara tertawa lepas, jenis tawa yang membuat kerutan di sudut matanya terlihat jelas dan wajah kakunya melunak sepenuhnya. "Anggap aja itu investasi. Kalau kamu merasa berutang, berarti kamu punya alasan buat menemui saya lagi di lain waktu, kan?" Kalimat itu meluncur begitu santai dari mulut Hanggara, namun sanggup membuat Nala kehilangan kata-kata. Ia kembali membuang muka ke arah jendela, memperhatikan deretan bangunan di pinggir jalan. Ada perasaan hangat yang menjalar di dadanya, perasaan yang jauh lebih nyaman daripada sekadar rasa kenyang setelah makan soto. Perjalanan pulang terasa jauh lebih singkat. Tanpa terasa, mobil itu sudah kembali memasuki halaman depan warung Pak Bakti. Dari kejauhan, terlihat Pak Bakti sedang melayani pembeli, namun matanya langsung beralih begitu melihat mobil Hanggara berhenti tepat di depan warungnya. Nala segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sebelum membuka pintu mobil. Ia melirik Hanggara sekali lagi, hendak mengucapkan terima kasih, namun pria itu sudah lebih dulu mematikan mesin dan melepas seatbelt. "Mas Hanggara nggak langsung balik?" tanya Nala heran. "Nggak sopan kalau saya cuma drop kamu di sini tanpa pamit sama Pak Bakti," jawab Hanggara tenang sembari membuka pintu mobil. Nala hanya bisa mengangguk pasrah, meski dalam hati ia tahu alasan sopan santun itu akan membuat godaan ayahnya semakin menjadi-jadi. Mereka berjalan beriringan menuju warung, pemandangan yang tak pelak membuat beberapa pelanggan yang baru datang menoleh dengan tatapan penasaran. "Lho, kok udah pulang? Cuma makan siang aja?" tanya Pak Bakti seraya menyerahkan kembalian pada pembeli di depannya. "Nggih, Pak. Tadi saya izinnya cuma makan siang aja," ucap Hanggara. "Padahal nggak apa-apa, lho, kalau mau kencan dulu." goda Pak Bakti sambil tersenyum lebar. "Papa! Jangan ngomong sembarangan!" sela Nala cepat. Ia menatap ayahnya dengan tatapan protes, berusaha memberi kode agar beliau berhenti mempermalukan dirinya di depan Hanggara, sementara Pak Bakti malah tidak merasa bersalah sama sekali. "Mas, maaf ya. Papa emang gitu, suka nggak jelas kalau bercanda," ujarnya pada Hanggara. Rasanya ia ingin sekali menyumpal mulut ayahnya pakai lap saat itu juga. Namun, niat itu diurungkannya karena takut kualat. Hanggara malah terkekeh pelan. "Nggak apa-apa kok," sahutnya kalem. "Kalau gitu, saya pamit pulang dulu ya." "Iya, Mas. Makasih ya buat makan siangnya, hati-hati di jalan," jawab Nala. Hanggara mengangguk, "Sama-sama," lalu ia menoleh ke arah Pak Bakti, "Mari, Pak." "Nggih, hati-hati Mas Gara! Makasih ya udah ngajak Nala kencan," sahut Pak Bakti tanpa dosa, suaranya sengaja dikeraskan supaya para membeli yang tengah memilih belanjaan juga dengar. "Papa!" Nala melotot, mukanya panas bukan main. Rasanya benar-benar malu sampai ke ubun-ubun. Melihat anaknya sudah mau meledak, Pak Bakti cuma tertawa renyah sambil menepuk dahinya. "Eh, maksudnya makan siang! Aduh, udah tua kadang lidahnya suka kepeleset. Dimaklumi ya, Mas?" Hanggara tidak menjawab, tapi senyum tipis di sudut bibirnya seolah mengatakan kalau dia tidak keberatan sama sekali dengan lidah keplesetnya Pak Bakti. Setelah berpamitan sekali lagi, Hanggara kembali ke mobil. Begitu mobil hitam itu perlahan meninggalkan halaman warung, Nala masih berdiri terpaku di tempatnya, menatap ke arah jalanan dengan napas yang tertahan. Begitu mobil itu benar-benar hilang dari pandangan, ia langsung berbalik dan menatap ayahnya dengan tangan berkacak pinggang. "Papa itu hobi banget ya bikin aku malu? Tadi Papa bilang aku makannya banyak, sekarang pakai bilang kencan-kencan segala! Kalau Mas Hanggara risi gimana?!" protes Nala dengan nada rendah namun penuh penekanan. Pak Bakti hanya terkekeh, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh pelototan sang anak. Ia tetap sibuk menghitung total belanjaan seorang ibu yang baru saja menaruh serenteng kopi, dua liter minyak goreng, dan beberapa bungkus mie instan di atas meja kasir. Jemarinya yang lincah menekan tombol kalkulator yang suaranya berisik itu. "Risi? Mana ada risi? Mas Gara kelihatannya santai-santai aja tuh," sahut Pak Bakti tanpa mengalihkan pandangan dari kalkulatornya. "Totalnya tujuh puluh tiga ribu, Bu Asih." Nala mendengus sebal, lalu menyeret langkahnya ke arah kasir. Tangannya merogoh ke balik meja, menarik selembar kantong plastik, dan mulai menyusun belanjaan Bu Asih satu demi satu ke dalam sana. "Mana ada ceritanya laki-laki risi kalau dibilang kencan sama perempuan secantik anak Papa," lanjut Pak Bakti sambil mengerling jenaka ke arah Bu Asih, yang langsung disambut tawa kecil oleh pelanggan setianya itu. "Betul itu, Nala. Mas Gara itu ganteng banget, lho. Sopan lagi," timpal Bu Asih sambil menerima kantong belanjaannya. "Cocok udah, Bapaknya setuju, anaknya malu-malu mau." Nala hanya bisa mengembuskan napas panjang, menyerah. Melawan ayahnya saat sedang ada pelanggan itu ibarat mencoba membendung air terjun dengan tangan kosong, sia-sia. Setelah Bu Asih pergi, suasana warung sedikit lengang. Hanya ada dua orang pembeli yang masih memilih belanjaannya di rak belakang. "Nala," panggil Pak Bakti lembut, kali ini nadanya lebih serius. Nala menoleh malas. "Apa?" "Papa bercanda begitu nggak bermaksud mau bikin kamu malu," Pak Bakti menyandarkan sikunya di meja, menatap anak perempuannya itu dengan binar bijak. "Papa cuma mau lihat reaksi Mas Gara. Laki-laki itu kalau beneran nggak suka atau merasa terganggu, gestur tubuhnya nggak bakal bisa bohong. Tapi tadi? Papa malah nggak nemu tanda-tanda dia keberatan dibilang kencan sama kamu." Nala terdiam. Bayangan tawa lepas Hanggara di mobil tadi mendadak terputar kembali di kepalanya, lengkap dengan kalimat 'alasan buat menemui saya lagi' yang sukses membuat perutnya terasa mulas, dalam artian yang baik. Namun, akal sehat Nala segera menariknya kembali ke bumi. Ia menggeleng keras, berusaha mengusir debaran yang tidak masuk akal itu. "Papa ini kejauhan mikirnya," sanggah Nala. "Aku sama Mas Hanggara itu baru kenal beberapa hari, Pa. Ketemu juga bisa dihitung jari semenjak aku pulang ke sini. Jangan bikin gosip sendiri, ah." Pak Bakti hanya manggut-manggut, namun senyumnya kembali terbit. "Ya memang baru kenal, tapi kalau frekuensinya pas, sehari pun bisa jadi cerita, Nala." Nala mendengus, ia menaruh tasnya ke atas kursi. "Terserah Papa lah. Aku mau ke belakang dulu, gerah," pamitnya, mencari alasan untuk menghindari Pak Bakti, agar obrolan tentang Hanggara tidak dilanjutkan lagi. Langkah Nala membawa dirinya ke kamar mandi yang ada di pojok warung. Ia berdiri di depan wastafel, membasuh wajahnya dengan air keran yang sejuk, namun bayangan Hanggara di dalam mobil tadi seolah enggan luruh bersama air. Kalimat 'Anggap aja itu investasi' terus terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Nala menatap pantulan dirinya di cermin kusam di atas wastafel. Ia menyentuh sudut bibirnya yang tanpa sadar melengkung tipis. "Investasi, ya?" bisiknya pelan. Ia segera menggelengkan kepala kuat-kuat, merutuki dirinya sendiri yang mulai hanyut dalam permainan kata pria itu. Nala tahu, Hanggara adalah pria matang yang setiap kalimatnya pasti terukur, setiap gesturnya punya maksud. Sangat kontras dengan dirinya yang baru saja mencoba menata ulang hidupnya di kampung halaman setelah penat dengan hiruk-pikuk kota. Nala kembali membasuh wajahnya, kali ini lebih lama, berharap suhu air yang dingin bisa meredam rona merah yang masih tersisa di pipinya. Ia tahu, jatuh cinta pada tahap ini mungkin terlalu dini, namun rasa penasaran yang berhasil ditanamkan Hanggara ke dalam benaknya justru jauh lebih berbahaya daripada sekadar rasa suka. Pria itu seperti teka-teki yang sengaja meninggalkan satu potongan petunjuk, membiarkan Nala terjebak dalam labirin pikirannya sendiri. Di depan, suara Pak Bakti kembali terdengar sedang bercengkerama dengan pelanggan lain, sesekali terdengar tawa khasnya yang renyah. Nala mengeringkan wajahnya dengan tisu, menarik napas dalam-dalam untuk menata kembali emosinya sebelum kembali membantu sang ayah di balik meja kasir. Baginya, hari ini bukan sekadar tentang soto yang enak atau perjalanan singkat di dalam SUV yang nyaman. Hari ini adalah tentang sebuah pintu yang perlahan mulai terbuka, sebuah pintu menuju babak baru yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya saat memutuskan untuk pulang. *** Tbc.Nala duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Tidak ada lagi isak tangis yang meledak-ledak. Air matanya kini jatuh perlahan, diam-diam, mengalir tanpa suara. Ia seolah sudah kehabisan energi, terlalu lelah bahkan untuk sekadar meraung keras di keheningan malam ini. Tatapannya kosong. Keputusan itu sudah terucap. Hubungannya dengan Hanggara sudah berakhir. Nala tidak pernah membayangkan kisah mereka akan menemui jalan buntu secepat ini. Enam bulan mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tapi bagi Nala, waktu itu cukup untuk merangkai rencana-rencana kecil yang ia simpan diam-diam di kepalanya. Obrolan santai tentang masa depan, candaan ringan soal bentuk rumah impian, hingga bayangan sederhana tentang Hanggara yang duduk di ruang tamu, berusaha mengobrol akrab dengan keluarganya. Ia memberikan seluruh kunci kepercayaannya kepada seseorang yang ternyata masih menyimpan kunci cadangan untuk masa lalunya. Nala menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang me
Parkiran rumah sakit sore itu terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sana telah habis terhisap oleh deretan mesin kendaraan yang menderu. Namun, kebisingan lalu lintas di luar gerbang sama sekali tak mampu memecah keheningan yang mencekam di kepala Hanggara. Ia mematung di samping mobilnya, menatap nanar layar ponselnya yang gelap dan dingin, sedingin hatinya saat Nala memutuskan sambungan telepon secara sepihak tadi. Hanggara sudah mencoba menelepon kembali berkali-kali, namun, tidak ada jawaban. Nala benar-benar menutup pintu untuknya. Kalimat yang diucapkan perempuan itu terus bergema, menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. 'Mas tuh udah nggak ada kepentingan apa pun sama dia.' Hanggara menunduk dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Nala benar. Sangat benar. Dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menata kepingan pikirannya yang porak-poranda sejak pagi. Saat telepon dari Rania m
Nala terdiam. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang, jemarinya memutih tanpa ia sadari. Detak jantungnya berubah tak beraturan. Perempuan itu memanggil Hanggara dengan nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Angga. Selama ini, Nala selalu memanggilnya Hanggara atau Gara. Semua orang di desa pun begitu. Tidak pernah sekali pun Nala mendengar ada orang yang memanggilnya sesantai itu. Panggilan itu terdengar sangat akrab. "Saya lagi telepon sebentar, kamu balik aja ke kamar. Takut Ibu kamu bangun dan nyariin, nanti saya nyusul." "Lagi telepon siapa sih? Ibu ya? Aku mau ngobrol dong, udah lama nggak ngobrol sama Ibu." Nala menutup matanya rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu menyakitkan. Suara perempuan itu terdengar jelas. Terlalu jelas untuk dianggap salah dengar. Nada bicaranya ringan, manja, seolah ia sudah sangat terbiasa berada di sekitar Hanggara, bahkan dengan sadar ikut campur dalam percakapan pribadi lelaki itu. "Mas," panggil Nala, menco
Nala sempat mengira, menjalin hubungan dengan laki-laki sedewasa Hanggara akan selalu adem-ayem. Enam bulan belakangan, perhatian Hanggara memang sukses membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun hari ini, ketenangan itu terusik. Sosok yang biasa mengisi hari-harinya itu seolah raib ditelan bumi. Pesan yang Nala kirimkan sejak pagi belum menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Sebenarnya Nala mencoba maklum. Ia tahu kesibukan Hanggara tidak main-main, mulai dari mengurus toko, memantau sawah, hingga mengecek peternakan. Tapi, apa sesulit itu meluangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar agar ia tidak dilanda kebingungan seperti ini? Dengan helaan napas panjang, Nala kembali melirik layar ponselnya. Ruang percakapannya dengan Hanggara masih sama seperti pagi tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Putus asa, ia menaruh benda pipih itu ke dalam laci meja. Nala memutuskan beranjak, menghampiri ayahnya yang sedang sibuk me
Makan siang berlangsung hangat dan penuh suara. Pak Gunawan mendominasi percakapan dengan cerita-cerita lama tentang toko beras mereka, sesekali melontarkan lelucon yang membuat Nala terkekeh tanpa sungkan. Bu Sulis sibuk menyendokkan lauk ke piring Nala meski Nala sudah berulang kali bilang sudah cukup. Dan Hanggara duduk di sampingnya, makan dengan tenang, sesekali berbicara seperlunya. Tapi Nala sadar, setiap kali gelak tawanya meledak karena ulah Pak Gunawan, Hanggara selalu menoleh sebentar ke arahnya. Ia tidak ikut tertawa, tapi sudut bibirnya selalu bergerak naik. Hanya sedikit. Cukup untuk ditangkap oleh seseorang yang sudah hafal betul ekspresi wajahnya. Dan entah sejak kapan, Nala menjadi salah satu orang itu. "Ayo, Nduk, ke depan. Katanya mau lihat bunga Ibu." Nala pun mengekor di belakang Bu Sulis. Hanggara yang tadinya hendak duduk di ruang tengah bersama ayahnya, memutuskan untuk ikut menyusul. "Anggrek-anggrek ini dibeliin sama Bapak," tunjuk Bu Sulis pada deretan a
Nala mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suara wanita itu begitu renyah, kontras dengan bayangan 'calon mertua galak' yang sempat melintas di benaknya. Ia refleks merapikan blusnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu menyalami tangan wanita itu dengan takzim. "S-siang, Bu. Saya Nala," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh debar jantungnya sendiri. "Iya, Nala, Ibu udah denger soal kamu dari Gara. Ayo, ayo masuk, Nduk. Kebetulan Ibu udah bikin teh sama gorengan tadi." ujar Ibu Hanggara sambil merangkul bahu Nala, bersikap sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hanggara yang berdiri di belakang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ibunya yang begitu bersemangat. Ia menatap punggung Nala dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega sekaligus bangga melihat bagaimana Nala dengan mudah mencuri hati ibunya di detik pertama bahkan tanpa melakukan apapun. Nala menoleh cepat, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Hanggara justru tersenyum tipis, memberi kode melalui
Waktu bergulir hingga tak terasa sore telah menyapa. Semburat oranye mulai menghiasi langit. Pukul setengah enam sore, suasana jalanan mulai sepi. Pak Bakti pun mulai merapikan kursi dan memberikan instruksi pada Nala untuk segera pulang. "Ayo beres-beres aja, Nduk, kita tutup," ujar Pak Bakti sambi
Meski air menghapus sisa lumpur sawah dari kulitnya, bayangan tangan besar Hanggara yang menariknya berdiri seolah masih terasa membekas di pikirannya. Suara bariton pria itu saat menyebutkan namanya terus bergema, menciptakan getaran aneh yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya. Selama di Jaka
Keesokan harinya, Nala terbangun oleh suara ayam berkokok dan aroma kopi tubruk yang samar-samar menyelinap ke kamarnya. Ia membuka mata perlahan, butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa langit-langit putih di atasnya bukan lagi plafon kosan sempit di Jakarta, melainkan kamar lamanya di rumah.
Nala menghirup dalam-dalam aroma rumahnya. Bau kayu jati tua, pewangi lantai karbol, dan tumisan bumbu dapur yang meresap hingga ke sudut ruangan. Rasanya luar biasa menenangkan. Ia segera menuju dapur untuk mencuci tangan, sementara Bu Raras sibuk menata piring-piring di meja makan kayu yang cukup







