Rusdi melangkah gontai meninggalkan gudang belakang. Napasnya masih terasa berat, sementara sisa wangi parfum mawar milik Nyonya Vivian seolah masih menempel di kulitnya. Keadaan rumah sudah sangat sepi, hanya ada suara angin malam yang sesekali meniup dedaunan di taman. Rusdi terus berjalan mengendap menuju kamarnya di paviliun sambil mengusap wajahnya berkali-kali."Aduh, Rus... ingat Ibu di rumah sakit," gumamnya pelan, mencoba menepis bayangan tubuh montok majikannya tadi.Begitu sampai di kamar, Rusdi segera mengunci pintu. Dia duduk di pinggir kasur yang sudah tipis. Dari saku celana, dia mengeluarkan gelang emas itu. Di bawah lampu bohlam yang remang, dia menatap inisial di gelang itu dengan dahi berkerut."AA... Kalau ini dari Tuan Adrian untuk Nyonya Vivian, kenapa inisialnya begini?" bisik Rusdi bingung.Dia lantas membuka laci meja kayu yang sudah kusam. Di balik tumpukan kain, tergeletak sebuah ponsel titanium yang sangat mahal. Bodinya mengkilap, terlihat sangat mewah di
Terakhir Diperbarui : 2026-02-19 Baca selengkapnya