Rusdi berdiri kaku di tempatnya. Matanya nanar melihat Siti yang masih terduduk di lantai semen dingin itu. Daster kuning Siti yang tipis dan agak belel itu tersingkap berantakan, memperlihatkan paha putihnya yang tebal dan mulus tanpa malu-malu.Siti meringis pelan sambil memegangi pinggang bagian belakangnya. Wajahnya cemberut, bibirnya yang penuh itu mengerucut seolah menahan sakit bercampur kesal."Aduh... pinggang Siti rasanya mau patah, Mas," keluh Siti dengan suara manja yang dibuat-buat."Sakit banget, Ti? Maaf, aku bantu berdiri ya," tawar Rusdi sambil mengulurkan tangan ragu-ragu.Siti menepis tangan Rusdi kasar. Matanya mendelik tajam, tapi justru terlihat semakin menggoda di mata Rusdi."Enak saja cuma bantu berdiri. Ini sakit benaran lho, Mas. Tadi benturannya keras. Mas Rusdi harus tanggung jawab," rengek Siti."Iya, aku harus bagaimana, Ti?" tanya Rusdi bingung."Pijat dong, Mas. Di sini nih, rasanya nyeri sekali," pinta Siti sambil menunjuk lekukan pinggangnya yang sin
Terakhir Diperbarui : 2026-02-12 Baca selengkapnya