Hana membuka tudung saji di atas meja kecil itu. Aroma tumis kangkung dan ikan asin goreng langsung menguar, masakan sederhana yang biasanya jadi favorit Rusdi, tapi kali ini perutnya justru terasa mual menciumnya."Ayo dimakan, Mas. Mumpung masih hangat," bujuk Hana sambil menyodorkan sendok.Rusdi menatap piring itu dengan tatapan kosong. "Rasanya nyangkut di tenggorokan, Han. Mas beneran nggak napsu.""Jangan gitu dong, Mas. Kalau Mas sakit, siapa yang mau ngurusin Ibu di kampung nanti? Mas butuh tenaga buat besok ngadap Nyonya," desak Hana lembut tapi tegas. Dia menuangkan air putih ke dalam gelas plastik. "Sedikit saja, Mas. Dipaksa."Rusdi menghela napas panjang, lalu perlahan menerima sendok itu. "Iya, Han. Mas coba."Suapan pertama terasa hambar di lidah Rusdi, seolah indra perasanya mati rasa karena panik. Dia mengunyah pelan sambil menunduk. Hana duduk diam di depannya, menemaninya tanpa banyak bicara, seolah mengerti kalau Rusdi sedang butuh teman tapi tidak butuh keramaian
Read more