Jantung Rusdi rasanya mau copot. Dia sudah mengepalkan tangan kanan, siap melayangkan pukulan ke rahang siapa pun yang berani menyergapnya.Tapi begitu dia berbalik, wajah brengos Pak Ujang yang merah padam memenuhi pandangannya. Kumis tebal pria tua itu bergetar saking marahnya."Pak Ujang..." desis Rusdi, menurunkan kepalan tangannya perlahan. Kakinya masih gemetar sisa kaget tadi."Pak Ujang, Pak Ujang! Mata kamu buta apa?" semprot Pak Ujang. Telunjuknya menusuk-nusuk dada Rusdi, tepat di samping saku kemeja. "Itu di depan sudah kayak perang dunia! Tamu VVIP di meja nomor satu minta refill wine dari lima menit lalu, pelayan lain malah sibuk angkut piring kotor!""Ma-maaf, Pak Ujang. Saya tadi...""Simpan maafmu buat Tuan Adrian kalau dia ngamuk!" potong Pak Ujang kasar.Tanpa babibu, Pak Ujang mencengkeram lengan atas Rusdi. Cengkeramannya kuat sekali, jari-jari tua yang biasa memeras kain pel itu menekan otot bisep Rusdi. Pak Ujang menyeretnya paksa menjauh dari kamar, kembali ke
Last Updated : 2026-02-28 Read more