"Tambah dikit lagi, Na. Mas lapar banget."Hana tertawa. "Iya, Mas. Pria memang harus makan banyak."Mereka mulai makan. Suasana terasa sangat akrab. Rusdi menyuap nasi dengan tangan, mencocol tempe ke sambal bawang yang pedasnya pas. Hana makan dengan pelan, sesekali melirik Rusdi yang makan dengan lahap."Gimana, Mas? Sambalnya pas?" tanya Hana hati-hati."Enak banget, Na. Persis sambal buatan Ibu di kampung," jawab Rusdi tulus.Hana terlihat sangat lega. Dia tersenyum sepanjang makan. "Kalau Mas suka, besok-besok aku buatkan lagi.""Boleh. Tapi jangan sering-sering, nanti Mas jadi manja," canda Rusdi.Hana menunduk, menyembunyikan senyumnya. "Nggak apa-apa kalau Mas mau manja juga."Kalimat itu membuat Rusdi berhenti mengunyah sebentar. Dia menatap Hana. Gadis itu tampak sangat polos, namun ada ketulusan yang murni di matanya. Sesuatu yang sangat mahal harganya di dunia tempat Reynard berasal."Na...""Iya, Mas?""Kamu betah kerja di sini?" tanya Rusdi tiba-tiba.Hana diam sebentar
Baca selengkapnya