"Kamu asalnya dari mana?" tanya Hendra lagi."Dari desa di Jawa Tengah, Tuan. Jauh di gunung. Saya merantau cari makan ke sini," kata Reynard. Dia memainkan ujung handuknya. "Tuan mau kopi juga? Tuan Adrian baru saja minta dibuatkan kopi pahit."Hendra membuang muka. Dia terlihat jijik melihat handuk kotor di leher Reynard."Tidak perlu. Saya tidak punya banyak waktu," kata Hendra.Hendra menatap Adrian kembali."Kita bicara di dalam saja, Adrian. Saya tidak suka bicara bisnis di taman begini," kata Hendra."Tentu, silakan masuk, Pak Hendra. Maaf rumah agak berantakan," kata Adrian menjilat.Adrian menoleh ke arah Reynard sebelum masuk."Rusdi! Cepat buat kopi dan antar ke ruang tamu sekarang! Jangan lama-lama!" bentak Adrian."Inggih, Tuan. Siap," jawab Reynard.Reynard melihat mereka masuk ke rumah. Pintu kaca tertutup. Saat itu juga, wajah bodoh Reynard hilang. Matanya menjadi tajam dan dingin.Dia berdiri tegak. Otot punggungnya yang tadi ditekuk kini merenggang. Dia berjalan ke k
Baca selengkapnya