Rakael sedang dalam suasana hati yang sangat baik. "Terima kasih, Kak Kirani.""Hei, aku juga ada, lho!" Nessa mendelik kesal. Dia jelas-jelas ada di sini, masa diabaikan begitu saja?Mana mungkin Rakael melupakan Nessa. Dia langsung menimpali, "Terima kasih juga, Kak Nessa."Barulah Nessa tersenyum puas. "Nah, begitu dong.""Rakael, kapan kita melakukan yang berikutnya?" tanya Kirani. Begitu selesai bicara, pipinya tanpa sadar memerah. Bagaimanapun juga, bagian yang disentuh itu cukup privat. Dia belum pernah sedekat itu dengan pria mana pun, jadi wajar kalau merasa sedikit malu.Rakael berpikir sejenak, lalu berkata, "Malam ini saja."Kirani mengangguk. "Baik. Nanti aku atur waktunya, lalu kukirim alamatnya ke kamu.""Ehem." Nessa berdeham pelan dua kali. "Itu ... sebenarnya akhir-akhir ini pinggangku agak nggak nyaman. Kapan kamu ada waktu? Tolong periksa pinggang Kakak juga, ya?"Rakael melirik pinggang ramping Nessa yang ramping. Sejujurnya, dia sama sekali tidak melihat tanda-tan
Read more