Ibu berusaha membuka matanya. Melihatku, seulas senyum muncul di wajahnya. Dia berkata, "Jivana, kenapa kamu pulang?"Aku menggenggam tangannya erat, air mataku tak berhenti mengalir. Aku menjawab, "Bu, aku sangat merindukanmu!"Ibu menghela napas, matanya memancarkan kekhawatiran. "Jivana, kenapa kamu menangis? Apa Doni nggak memperlakukanmu dengan baik?"Aku segera menghapus air mataku dan memaksakan senyum. Aku berkata, "Nggak, dia sangat baik padaku. Aku hanya sudah terlalu lama nggak bertemu Ibu, aku sangat kangen."Mendengar hal itu, Ibu baru bisa merasa tenang. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Jivana, setelah menikah dengan Doni, kamu harus hidup dengan baik. Jangan membuat Doni marah."Kata-kata Ibu membuat hatiku semakin perih. Ibu belum tahu bahwa Doni yang paling dia percayai adalah iblis yang sesungguhnya."Baik, Bu," jawabku sambil memaksakan senyum, lalu bertanya, "Bagaimana keadaan Ibu akhir-akhir ini? Apa sudah mendingan?"Ibu menggelengkan kepala
続きを読む