共有

Bab 2

作者: Flowery
Aku sudah tidak tahan lagi. Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba dunia terasa berputar.

Aku dibaringkan di atas tempat tidur dengan rok yang tersingkap hingga ke pinggang.

Jarvis merentangkan kedua tangannya, menunjukkan senyum tanpa dosa.

"Nona Jivana, jangan tegang. Aku akan membantumu merilekskan ototmu terlebih dahulu."

"Ya ...."

Seluruh tubuhku menegang. Aku melihat Jarvis membuka telapak tangannya, menuangkan minyak esensial, lalu menggosokkannya.

Kemudian, kedua tangannya menempel pada bagian dalam betis dan mulai memijat lembut.

Tangannya sangat panas. Permukaan jarinya yang kasar bergesekan dengan kulitku yang lembut, dan setiap gerakan kecilnya seketika memicu getaran tak terkendali di tubuhku.

Dia tertawa kecil.

"Kulitmu nggak hanya elastis, tapi juga putih dan halus. Kamu merawatnya dengan baik."

Wajahku memerah, aku tidak bersuara.

Betisku diremas oleh telapak tangannya yang kuat, rasa panas menjalar ke seluruh tubuh, meninggalkan bercak kemerahan di kulitku yang putih.

Aku menggigit bibir, takut tidak sengaja mengeluarkan suara.

Dalam hati, aku berdoa agar sesi ini segera berakhir.

Namun, kenyataan berkata lain. Aku merasakan tangan itu perlahan merayap naik mengikuti lekuk betis, berpindah ke paha, dan bahkan menunjukkan tanda-tanda akan naik lebih jauh lagi.

Tubuhku semakin tegang. Untuk mengalihkan perhatian, aku memalingkan wajah. Namun, mataku justru tertuju pada tangannya.

Dari sudut ini, tangan Jarvis terlihat sangat indah. Tulang sendinya tegas dan jemarinya panjang.

Jika tangan itu naik lebih jauh lagi ....

"Nona Jivana, rileks. Otot dan sendimu sangat lentur, tapi masih perlu dipijat dengan kuat agar terbuka."

"Uh ... baik ...."

Aku menggigit bibir dan memejamkan mata karena malu saat telapak tangannya menutupi perut bawahku.

"Nona Jivana, santai saja. Selanjutnya aku akan menggunakan sedikit tenaga."

"Baik ...."

Kedua tanganku meremas seprai dengan kencang, memalingkan pandangan dengan malu.

Jarvis berlutut di atas tempat tidur, membungkuk dengan kedua tangan menumpu di sisi tubuhku.

Aromanya yang segar dan maskulin mengepungku.

Tangan Jarvis menekan perut bawahku dengan kuat, memijatnya perlahan.

Jari kakiku mengerut dengan malu, aku menggigit bibir agar tidak bersuara.

Tangannya berangsur naik, memijat dan menyentuh pinggiran pakaian dalamku.

"Nona Jivana, tubuhmu adalah tubuh terbaik yang pernah kulihat. Aku yakin suamimu sangat mencintaimu."

Kalimat itu membuat mataku memerah.

"Ssh, jangan menangis. Apa pun yang terjadi, aku akan membantumu."

Suara Jarvis serak saat jemarinya menghapus air mataku.

Aku menggelengkan kepala. Meski sempat terbuai sesaat, aku sadar aku telah menikah dengan Doni, aku tidak boleh mengkhianatinya.

Sesi ini harus segera selesai. Aku tidak boleh lupa niat awalku datang ke sini.

"Pelatih, kapan kita mulai terjun payung?"

Jarvis menyipitkan mata, sekelebat rasa tidak sabar tampak di wajahnya.

"Nona Jivana, kalau kamu terjun tanpa memahami posisi profesional, kamu akan melukai dirimu sendiri."

Hatiku seakan meloncat keluar. Aku segera menjelaskan padanya, "Pelatih, aku ingin cepat bisa terjun payung. Tolong bantu aku, ya?"

Seolah sudah menduga aku akan berkata demikian, dia mulai merayu.

"Kalau begitu, apa kamu mau mendengarkan instruksiku? Apa pun instruksinya, kamu akan melakukannya?"

Jarvis membawaku ke ruang latihan yang lebih luas, berisi banyak peralatan olahraga yang tidak kukenali.

Tangannya bertumpu di bahuku, menanti jawabanku.

Sebenarnya aku masih ragu, tapi ... mungkin karena terhipnotis oleh suhu tubuhnya, entah bagaimana akal sehatku kalah.

"Aku akan patuh, Pelatih. Jadi ...."

"Bagus."

Tangan di bahuku mulai menekan ke bawah dengan lebih kuat.

"Buka kakimu lebih lebar, tekan pinggang ke bawah. Posisi ini adalah ...."

Jarvis merentangkan kedua tungkaiku. Aku dipaksa masuk ke dalam posisi yang sangat memalukan.

"Ya, seperti itu. Tahan."

Wajahku terasa terbakar. Aku terbiasa melakukan yoga, jadi ini tidak sakit. Namun, rasa malunya membuatku gemetar.

"Pelatih, apa harus seperti ini?"

"Kenapa? Kamu sudah nggak tahan? Bukannya kamu bilang ... akan patuh?"

Napas panas Jarvis berembus di telingaku. Jantungku berdegup kencang, tiba-tiba ada aliran hangat yang merembes di bawah sana.

Sudah basah.

Secara refleks aku ingin menutupinya dengan tangan, tapi pergelangan tanganku langsung dicengkeram kuat oleh Jarvis.

"Jangan bergerak!"

Pria di belakangku sepertinya tertawa kecil, suaranya terdengar serak.

"Nona Jivana, kamu sensitif sekali!"

Aku menggigit bibir dengan sangat malu, ingin rasanya menghilang ditelan bumi.

"Ma, maaf, tunggu sebentar!"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 9

    Jarvis terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, "Nggak masalah, aku akan menyuruh seseorang untuk meretas sistem pengawasannya."Mendengar hal itu, aku merasa sedikit lega. Langkah selanjutnya adalah aku harus mengambil bukti penting itu secepat mungkin.Tiga malam kemudian, saat Doni pergi keluar bersama teman-temannya. Aku memastikan dia sudah pergi, lalu mengirim pesan kepada Jarvis untuk memastikan agar peretasnya memutus aliran kamera.Aku menyelinap ke ruang kerja dan membuka brankas. Flashdisk yang berisi bukti itu ada di sana. Aku mengambilnya dengan hati-hati. Jantungku berdegup sangat kencang.Tepat saat akan pergi, sudut mataku menangkap dokumen lain di samping tempat flashdisk. Karena penasaran, aku membukanya. Ternyata itu adalah catatan tentang tambang ilegal.Lubang galian tambang yang tidak terstandar dan penggunaan pekerja gelap secara paksa.Pantas saja Keluarga Tobias kaya raya, ternyata mereka membangun kekayaan di atas nyawa manusia!Aku harus mengambil bukti in

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 8

    Ibu berusaha membuka matanya. Melihatku, seulas senyum muncul di wajahnya. Dia berkata, "Jivana, kenapa kamu pulang?"Aku menggenggam tangannya erat, air mataku tak berhenti mengalir. Aku menjawab, "Bu, aku sangat merindukanmu!"Ibu menghela napas, matanya memancarkan kekhawatiran. "Jivana, kenapa kamu menangis? Apa Doni nggak memperlakukanmu dengan baik?"Aku segera menghapus air mataku dan memaksakan senyum. Aku berkata, "Nggak, dia sangat baik padaku. Aku hanya sudah terlalu lama nggak bertemu Ibu, aku sangat kangen."Mendengar hal itu, Ibu baru bisa merasa tenang. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Jivana, setelah menikah dengan Doni, kamu harus hidup dengan baik. Jangan membuat Doni marah."Kata-kata Ibu membuat hatiku semakin perih. Ibu belum tahu bahwa Doni yang paling dia percayai adalah iblis yang sesungguhnya."Baik, Bu," jawabku sambil memaksakan senyum, lalu bertanya, "Bagaimana keadaan Ibu akhir-akhir ini? Apa sudah mendingan?"Ibu menggelengkan kepala

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 7

    "Nona Jivana, aku sudah menyelidiki latar belakangmu. Kamu selalu berprestasi sejak kecil dan awalnya berencana mengambil gelar doktor.""Kamu menikah mendadak dengan Doni karena ibumu sakit keras dan butuh biaya besar, ‘kan?"Aku tertegun mendengar Jarvis telah menyelidikiku. Dengan bingung aku bertanya, "Apa maksudmu?"Jarvis tidak menjawab secara langsung, dia hanya menatapku dalam berkata, "Aku bisa memberimu sejumlah uang yang cukup untukmu dan keluargamu agar bisa hidup tenang. Tapi, kamu harus membantuku melakukan satu hal.""Apa itu?" tanyaku spontan."Curi sebuah dokumen milik Doni," jawab Jarvis dengan nada mantap dan kuat.Aku sangat terkejut. Secara refleks aku ingin menolaknya. Meski Doni telah membohongiku, bagaimanapun juga dia telah menyelamatkan nyawa ibuku. Aku tidak ingin menjadi orang yang membalas air susu dengan air tuba."Pak Jarvis, aku nggak bisa menyetujuinya." Aku menggelengkan kepala dan bangkit berdiri untuk pergi."Nona Jivana, apa kamu nggak ingin tahu k

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 6

    "Jivana, aku sudah memeriksa semua jalur yang memungkinkan untuk diperiksa, tapi catatan pernikahan Doni benar-benar kosong." Suara temanku terdengar pasrah saat melanjutkan, "Apa mungkin kamu terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh?"Tidak, tidak mungkin! Aku ingat jelas setiap kata, setiap suku kata yang diucapkan Doni! Namun, kenapa tidak ada jejaknya yang bisa ditemukan?Tepat saat itu, Doni menelepon dan mengatakan bahwa malam ini dia ada undangan pertemuan dan menyuruhku tidur lebih dulu. Pikiranku tergerak. Aku pun memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk menyelidiki latar belakangnya lebih dalam.Malam harinya, aku mengemudikan mobil menuju bar tempat pertemuan Doni. Begitu masuk, kulihat Doni dikelilingi oleh sekelompok pria dan wanita, sedang asyik berpesta dan minum. Melihat kehadiranku, Doni tertegun sejenak, lalu mengerutkan kening. "Kenapa kamu ke sini?"Aku tersenyum dan mendekat. Aku menjawab, "Kamu belum pulang, jadi aku agak khawatir."Doni tidak menyahu

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 5

    Suaraku bergetar menahan tangis, berusaha membuatnya percaya padaku. Namun, Doni sama sekali tidak bergeming. Dia melotot padaku dan berkata dengan nada dingin, "Aku nggak butuh penjelasanmu. Sekarang, kamu cepat pulang!"Setelah mengatakan hal itu, dia membanting pintu mobil dan pergi tanpa menoleh sedikit pun. Aku berdiri terpaku di tempat, merasa putus asa. Aku tahu, kali ini aku benar-benar membuatnya marah.Aku berjalan pulang dengan perasaan hancur, bayangan tatapan kecewa Doni terus berputar di kepalaku. Aku benar-benar tidak berniat mengkhianatinya, tapi dia sudah sebulan tidak menyentuhku.Aku wanita normal, aku juga punya kebutuhan biologis.Tiba-tiba, sebuah sosok yang akrab muncul di hadapanku. Orang itu adalah Jarvis! Dia bersandar pada mobilnya dan memperhatikanku dalam diam. Saat melihatku, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti."Nona Jivana, kebetulan sekali kita bertemu lagi."Suaranya yang berat dan seksi membuat jantungku berdesir. Aku menund

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 4

    Tepat pada saat itu, parasut yang semula tenang tiba-tiba berguncang hebat. Raut wajah Jarvis berubah drastis, dia segera melepaskanku untuk mengendalikan kemudi parasut."Pegangan yang kuat! Sepertinya kita terkena turbulensi!"Suara Jarvis menggelegar di telingaku. Aku tersentak sadar, rasa ngeri menyergap dalam sekejap. Barusan, aku hampir saja tenggelam dalam buaian gairahnya dan lupa bahwa kami masih melayang di angkasa.Aku memeluk Jarvis erat-erat, tubuhku gemetar hebat karena kombinasi rasa takut dan rangsangan yang tersisa. Sambil mengendalikan parasut, Jarvis terus menenangkanku, "Jangan takut, ada aku. Kita nggak akan kenapa-kenapa."Suaranya yang mantap dan kuat sedikit meredakan kecemasanku. Seiring dengan stabilnya parasut, kami berhasil melewati krisis tersebut. Namun, hatiku dipenuhi emosi yang campur aduk. Segala yang baru saja terjadi membuatku merasa malu sekaligus bergairah. Tak pernah terlintas di benakku bahwa dalam kondisi seperti ini, aku akan melakukan k

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status