共有

Bab 3

作者: Flowery
Aku mendorongnya dengan kasar dan berlari ke ruang istirahat.

Aku membuka tas dan mengeluarkan "mainan" yang baru kubeli.

Jika terus begini, aku bisa saja kehilangan kendali di depan pria yang tak kukenal. Aku harus menangani gairah yang tidak seharusnya bangkit ini, sebelum semuanya menjadi tak terkendali.

Wajahku memerah, butuh waktu cukup lama untuk menyesuaikan frekuensinya.

Begitu alat itu mulai bekerja dan aku baru mulai menikmatinya, Jarvis mengetuk pintu dan masuk.

"Nona Jivana, waktumu hampir habis. Kita harus siap-siap ...."

Aku tersentak kaget. Frekuensi getaran alat itu tiba-tiba melonjak tinggi, membuatku menjerit kecil sambil mengapitkan kaki rapat-rapat.

Wajah Jarvis juga memerah. Dengan ekspresi tertarik, dia menarik tanganku yang berada di sela paha.

Jemariku yang basah dipermainkan dan diremas olehnya dengan penuh arti.

"Nona Jivana ... kamu sudah nggak tahan lagi dengan stimulasi ini?"

Satu kalimatnya itu membuat kakiku semakin lemas.

Aku segera menarik tanganku, berusaha keras menggunakan sisa akal sehatku untuk mencari alasan.

Melihat hal itu, Jarvis tidak banyak bicara lagi dan hanya menyerahkan pakaian khusus terjun payung yang dia bawa.

"Baiklah, aku datang untuk memberitahumu bahwa waktumu hampir habis. Aku menunggumu di luar selama tiga menit. Ganti pakaianmu dan segera keluar, kita akan mulai terjun payung."

Sebelum keluar dan menutup pintu, dia mengetuk arlojinya.

"Waktu dimulai."

Secara otomatis aku mengikuti instruksinya dan mulai berpakaian. Namun saat mengganti pakaian, aku baru ingat bahwa mainan itu belum kukeluarkan.

Aku terlalu malu untuk mengatakannya, takut orang lain menyadari ada yang aneh.

Karena waktu yang mepet, akhirnya aku memilih untuk menahannya.

Namun, aku terlalu meremehkan daya tahanku.

Saat Jarvis membantuku merapikan perlengkapan, aku tidak menyangka bahwa tali pengaman harus melilit melewati selangkangan.

Ketika dia menariknya dengan kuat, tubuhku mendadak melengkung dan kakiku lemas hingga hampir terjatuh.

Jarvis menangkapku, matanya yang hitam tampak dalam menatapku.

"Nona Jivana, baru dipasang tali pengaman saja kakimu sudah lemas?"

Jarvis meremas pantatku sekejap dan tersenyum penuh arti.

...

Selanjutnya, setelah mengikat tali pengaman, Jarvis membawaku naik pesawat ke ketinggian.

Sesuai instruksinya, aku melangkah ke papan loncat.

Jarvis memelukku dari belakang, jemari kami saling bertautan.

"Jangan takut. Aku memelukmu, percayakan seluruh tubuhmu padaku."

Aku mengangguk, memejamkan mata, dan melompat.

Sensasi melayang menyerang, seluruh tubuhku gemetar, otot-ototku menegang secara alami.

Stimulasi dari mainan itu menjadi semakin kuat. Seluruh tubuhku terasa seperti dialiri listrik, kesemutan, dan bergetar hebat.

"Nona Jivana, jangan takut, pertahankan posisimu."

Jarvis berbicara dengan suara berat, dia mengira aku gemetar karena takut.

Aku berusaha keras untuk tidak bergerak, tapi sensasi itu terlalu kuat.

Aku mau tak mau mengerang dengan suara keras.

Tubuh Jarvis yang memelukku, tiba-tiba menegang.

"Nona Jivana, dengan mengerang seperti ini, apa kamu sedang menguji kesabaranku?"

Setelah mengatakan hal itu, Jarvis memintaku memegang salah satu tali parasut.

Dia melepaskan satu tangannya, lalu tiba-tiba mencengkeram pangkal pahaku.

"Kamu ...."

Aku gemetar hebat, tidak tahu harus berbuat apa.

Jarvis justru tertawa pelan di telingaku dan berkata, "Mari kita lihat, Nona Jivana. Benda bagus apa yang kau sembunyikan sampai lupa mengambilnya?"

Aku tersentak, rasa malu membuatku hampir pingsan. "Aku..."

Jarvis menyipitkan mata. Ternyata dia berniat merogoh masuk untuk mengeluarkan benda itu.

"Jangan, jangan! Kumohon!"

Kedua lututnya menekan kuat, menghalangiku untuk merapatkan kaki.

Tanpa sadar, aku justru tidak memberikan perlawanan yang berarti.

Meski aku sengaja memalingkan wajah, aku tetap bisa merasakan tatapan panasnya yang mengunci diriku.

Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit, terasa dingin dan kasar.

Jarvis sengaja bergerak perlahan dan meraba masuk.

Aku bisa merasakan setiap gerakan jari Jarvis. Setiap remasan dan belaiannya, sementara napas panasnya menerpa sisi telingaku.

Suaranya serak saat berkata, "Nona Jivana, apa mainan ini terasa enak? Bagaimana kalau mencoba milikku ...."

Tonjolan di belakangku semakin membesar. Aku yakin benda itu bisa menembus apa pun.

Tanpa menunggu jawabanku, Jarvis menyentak tangannya keluar.

Di saat aku tidak siap, dia dengan paksa membuka bibirku dan menjejalkan mainan itu ke dalam mulutku.

"Ssh! Gigit ini. Jangan bicara, rasakan saja kehadiranku."

Suara Jarvis rendah dan serak, membawa kekuatan yang tidak bisa dibantah.

Aku perlahan memejamkan mata. Batinku hanya ragu selama satu detik, sebelum akal sehatku sirna sepenuhnya, dan menyisakan pikiran yang hanya dipenuhi oleh kenikmatan.

Jarvis membuka celananya, pinggangnya bergerak turun, dan dia pun menghunjam masuk ....

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 9

    Jarvis terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, "Nggak masalah, aku akan menyuruh seseorang untuk meretas sistem pengawasannya."Mendengar hal itu, aku merasa sedikit lega. Langkah selanjutnya adalah aku harus mengambil bukti penting itu secepat mungkin.Tiga malam kemudian, saat Doni pergi keluar bersama teman-temannya. Aku memastikan dia sudah pergi, lalu mengirim pesan kepada Jarvis untuk memastikan agar peretasnya memutus aliran kamera.Aku menyelinap ke ruang kerja dan membuka brankas. Flashdisk yang berisi bukti itu ada di sana. Aku mengambilnya dengan hati-hati. Jantungku berdegup sangat kencang.Tepat saat akan pergi, sudut mataku menangkap dokumen lain di samping tempat flashdisk. Karena penasaran, aku membukanya. Ternyata itu adalah catatan tentang tambang ilegal.Lubang galian tambang yang tidak terstandar dan penggunaan pekerja gelap secara paksa.Pantas saja Keluarga Tobias kaya raya, ternyata mereka membangun kekayaan di atas nyawa manusia!Aku harus mengambil bukti in

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 8

    Ibu berusaha membuka matanya. Melihatku, seulas senyum muncul di wajahnya. Dia berkata, "Jivana, kenapa kamu pulang?"Aku menggenggam tangannya erat, air mataku tak berhenti mengalir. Aku menjawab, "Bu, aku sangat merindukanmu!"Ibu menghela napas, matanya memancarkan kekhawatiran. "Jivana, kenapa kamu menangis? Apa Doni nggak memperlakukanmu dengan baik?"Aku segera menghapus air mataku dan memaksakan senyum. Aku berkata, "Nggak, dia sangat baik padaku. Aku hanya sudah terlalu lama nggak bertemu Ibu, aku sangat kangen."Mendengar hal itu, Ibu baru bisa merasa tenang. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Jivana, setelah menikah dengan Doni, kamu harus hidup dengan baik. Jangan membuat Doni marah."Kata-kata Ibu membuat hatiku semakin perih. Ibu belum tahu bahwa Doni yang paling dia percayai adalah iblis yang sesungguhnya."Baik, Bu," jawabku sambil memaksakan senyum, lalu bertanya, "Bagaimana keadaan Ibu akhir-akhir ini? Apa sudah mendingan?"Ibu menggelengkan kepala

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 7

    "Nona Jivana, aku sudah menyelidiki latar belakangmu. Kamu selalu berprestasi sejak kecil dan awalnya berencana mengambil gelar doktor.""Kamu menikah mendadak dengan Doni karena ibumu sakit keras dan butuh biaya besar, ‘kan?"Aku tertegun mendengar Jarvis telah menyelidikiku. Dengan bingung aku bertanya, "Apa maksudmu?"Jarvis tidak menjawab secara langsung, dia hanya menatapku dalam berkata, "Aku bisa memberimu sejumlah uang yang cukup untukmu dan keluargamu agar bisa hidup tenang. Tapi, kamu harus membantuku melakukan satu hal.""Apa itu?" tanyaku spontan."Curi sebuah dokumen milik Doni," jawab Jarvis dengan nada mantap dan kuat.Aku sangat terkejut. Secara refleks aku ingin menolaknya. Meski Doni telah membohongiku, bagaimanapun juga dia telah menyelamatkan nyawa ibuku. Aku tidak ingin menjadi orang yang membalas air susu dengan air tuba."Pak Jarvis, aku nggak bisa menyetujuinya." Aku menggelengkan kepala dan bangkit berdiri untuk pergi."Nona Jivana, apa kamu nggak ingin tahu k

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 6

    "Jivana, aku sudah memeriksa semua jalur yang memungkinkan untuk diperiksa, tapi catatan pernikahan Doni benar-benar kosong." Suara temanku terdengar pasrah saat melanjutkan, "Apa mungkin kamu terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh?"Tidak, tidak mungkin! Aku ingat jelas setiap kata, setiap suku kata yang diucapkan Doni! Namun, kenapa tidak ada jejaknya yang bisa ditemukan?Tepat saat itu, Doni menelepon dan mengatakan bahwa malam ini dia ada undangan pertemuan dan menyuruhku tidur lebih dulu. Pikiranku tergerak. Aku pun memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk menyelidiki latar belakangnya lebih dalam.Malam harinya, aku mengemudikan mobil menuju bar tempat pertemuan Doni. Begitu masuk, kulihat Doni dikelilingi oleh sekelompok pria dan wanita, sedang asyik berpesta dan minum. Melihat kehadiranku, Doni tertegun sejenak, lalu mengerutkan kening. "Kenapa kamu ke sini?"Aku tersenyum dan mendekat. Aku menjawab, "Kamu belum pulang, jadi aku agak khawatir."Doni tidak menyahu

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 5

    Suaraku bergetar menahan tangis, berusaha membuatnya percaya padaku. Namun, Doni sama sekali tidak bergeming. Dia melotot padaku dan berkata dengan nada dingin, "Aku nggak butuh penjelasanmu. Sekarang, kamu cepat pulang!"Setelah mengatakan hal itu, dia membanting pintu mobil dan pergi tanpa menoleh sedikit pun. Aku berdiri terpaku di tempat, merasa putus asa. Aku tahu, kali ini aku benar-benar membuatnya marah.Aku berjalan pulang dengan perasaan hancur, bayangan tatapan kecewa Doni terus berputar di kepalaku. Aku benar-benar tidak berniat mengkhianatinya, tapi dia sudah sebulan tidak menyentuhku.Aku wanita normal, aku juga punya kebutuhan biologis.Tiba-tiba, sebuah sosok yang akrab muncul di hadapanku. Orang itu adalah Jarvis! Dia bersandar pada mobilnya dan memperhatikanku dalam diam. Saat melihatku, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti."Nona Jivana, kebetulan sekali kita bertemu lagi."Suaranya yang berat dan seksi membuat jantungku berdesir. Aku menund

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 4

    Tepat pada saat itu, parasut yang semula tenang tiba-tiba berguncang hebat. Raut wajah Jarvis berubah drastis, dia segera melepaskanku untuk mengendalikan kemudi parasut."Pegangan yang kuat! Sepertinya kita terkena turbulensi!"Suara Jarvis menggelegar di telingaku. Aku tersentak sadar, rasa ngeri menyergap dalam sekejap. Barusan, aku hampir saja tenggelam dalam buaian gairahnya dan lupa bahwa kami masih melayang di angkasa.Aku memeluk Jarvis erat-erat, tubuhku gemetar hebat karena kombinasi rasa takut dan rangsangan yang tersisa. Sambil mengendalikan parasut, Jarvis terus menenangkanku, "Jangan takut, ada aku. Kita nggak akan kenapa-kenapa."Suaranya yang mantap dan kuat sedikit meredakan kecemasanku. Seiring dengan stabilnya parasut, kami berhasil melewati krisis tersebut. Namun, hatiku dipenuhi emosi yang campur aduk. Segala yang baru saja terjadi membuatku merasa malu sekaligus bergairah. Tak pernah terlintas di benakku bahwa dalam kondisi seperti ini, aku akan melakukan k

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status