共有

Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter
Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter
作者: Flowery

Bab 1

作者: Flowery
Namaku Jivana Alinka, seorang wanita yang baru saja menikah.

Aku dan suamiku sangat cocok dalam segala hal, kecuali satu hal, yaitu urusan ranjang.

Suamiku sangat menyukai tantangan dan hal-hal ekstrem, sementara aku adalah tipe wanita konservatif. Hal ini menciptakan konflik dalam kehidupan seksual kami. Tak satu pun dari kami yang merasa benar-benar puas.

Aku tahu aku tidak bisa terus begini. Aku telah berusaha keras untuk bekerja sama dengannya dalam mengeksplorasi tubuhku sendiri. Namun ....

Hingga saat ini, tingkat penerimaanku baru sebatas menggunakan alat bantu pemuas seksual.

Setiap kali melihat sosok suamiku yang tampak sedikit kesepian, hatiku merasa tidak tenang.

Akhirnya, diam-diam aku mencari tahu tentang klub olahraga ekstrem yang sering dia kunjungi. Mungkin jika aku mencoba olahraga ekstrem yang dia sukai, aku bisa lebih memahami apa yang dia rasakan.

Berdasarkan kondisi fisikku, pihak klub menugaskan seorang pelatih untuk membimbingku berlatih terlebih dahulu.

Aku melangkah ke dalam ruang latihan, berjalan hingga ke bagian paling dalam, dan berbaring di atas tempat tidur sesuai arahan staf penjualan.

Tirai di sekeliling ditarik dan membentuk sebuah ruang tertutup yang kecil dan privat.

Seorang pelatih muda masuk, lalu menyipitkan mata sambil membolak-balik berkas keanggotaan di tangannya.

Aku menggigit bibir dengan canggung. Tatapanku tidak fokus dan gelisah, hingga akhirnya jatuh pada pria di hadapanku.

Bentuk tubuhnya benar-benar luar biasa. Dia mengenakan singlet hitam ketat dan celana kargo.

Otot bisepnya seolah hampir merobek pakaiannya, dengan bentuk tubuh V-Shape yang sempurna. Dan di bawah ....

Tampak tonjolan yang penuh.

Aku mematung di tempat, tubuhku mulai terasa panas tanpa kendali.

Pelatih itu berdiri di tepi tempat tidur, tatapannya beralih dari tepi kertas ke wajahku. Saat pandangannya perlahan turun, dia sesekali berhenti di lekuk dadaku dan pinggangku yang ramping. Tatapan yang awalnya hanya menyelidik itu, berangsur-angsur menjadi panas dan semakin sulit untuk diabaikan.

Aku terengah pelan, meremas pinggiran rokku karena gelisah.

Dia menatap lipatan rok yang kuremas itu. Panas dari tatapannya seolah berubah menjadi lidah api yang ingin membakar habis semua penutup di tubuhku.

Aku merasa seakan tatapan itu sedang membelai kulitku, menelanjangi tiap helai pakaianku, hingga akhirnya akal sehatku ikut hangus terbakar.

Menyadari tatapanku yang mencoba menghindar, dia terkekeh pelan. Dia berkata, "Nona, jangan melamun. Lepaskan saja rokmu."

Aku tertegun dan menatap pria itu dengan bingung.

Dia menatap pipiku yang mulai berkeringat dengan ekspresi penuh arti, lalu menjelaskan, "Aku pelatih eksklusifmu, Jarvis Sirda."

"Aku harus memeriksa tubuhmu terlebih dahulu, baru bisa menyusun program latihan profesional."

"Kamu seharusnya bisa mengerti, ‘kan?"

Wajahku memerah. Tanganku yang memegang pinggiran rok bergerak ragu sesaat, sebelum akhirnya perlahan-lahan mulai menyingkapnya ke atas.

Tubuhku yang sudah terasa panas, berangsur-angsur kehilangan perlindungannya. Sensasi dingin yang tiba-tiba menyentuh kulit membuatku gemetar.

Tanganku pun berhenti dengan sendirinya.

"Nggak bisa lanjut? Kalau begitu, kamu boleh pergi."

Kata-kata pria itu membuat tanganku yang baru saja berhenti, kembali gemetar.

"Ja, jangan, aku ... tunggu sebentar ...."

Aku datang ke sini justru untuk mencari sensasi gairah itu.

Jika aku berhenti saat ini ....

"Kalau begini terus, nggak akan berhasil. Biar kubantu."

Kata-katanya yang tiba-tiba, membuat pikiranku yang sempat buyar kembali fokus. Jarvis membungkuk, kedua tangannya melingkari pinggangku dan langsung mengangkatku.

Tanpa sempat menghindar, aku terjatuh tepat di antara kedua kakinya.

Aroma hormon pria yang menyeruak membuat pikiranku buntu. Terlebih lagi, meski hanya bersentuhan singkat, aku tetap bisa merasakan panas dan perkasa "senjata" yang sudah siap tempur di balik celananya. Hal itu membuat tubuhku seketika lemas, membiarkannya melakukan apa pun padaku.

"Resletingnya ada di belakang, kamu sulit menjangkaunya sendiri. Tunggu sebentar."

Suara Jarvis terdengar berat, embusan napas hangatnya menerpa punggungku.

Otakku tidak bisa mencerna apa pun lagi.

Pipiku seolah masih bisa merasakan sensasi sentuhan itu, saat aku menabrak bagian bawah tubuhnya tadi.

Tak lama kemudian, resleting logam yang dingin perlahan meluncur turun, membiarkan kedua sisi rokku terbuka.

"Uh!"

Aku menggigit bibir, jari-jari kakiku menekuk karena malu.

Gesekan resleting dingin di sepanjang tulang belakangku memicu gelombang getaran.

"Jangan bergerak!"

Seluruh tubuhku kaku, aku tidak berani bergerak sedikit pun.

Pandanganku tertuju pada Jarvis, sementara matanya tertuju pada kakiku.

Lalu naik dan terus naik.

Kulit telanjangku seolah dibelai oleh tatapannya yang penuh nafsu, hingga kulitku perlahan mulai merona merah.

"Kamu ...."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 9

    Jarvis terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, "Nggak masalah, aku akan menyuruh seseorang untuk meretas sistem pengawasannya."Mendengar hal itu, aku merasa sedikit lega. Langkah selanjutnya adalah aku harus mengambil bukti penting itu secepat mungkin.Tiga malam kemudian, saat Doni pergi keluar bersama teman-temannya. Aku memastikan dia sudah pergi, lalu mengirim pesan kepada Jarvis untuk memastikan agar peretasnya memutus aliran kamera.Aku menyelinap ke ruang kerja dan membuka brankas. Flashdisk yang berisi bukti itu ada di sana. Aku mengambilnya dengan hati-hati. Jantungku berdegup sangat kencang.Tepat saat akan pergi, sudut mataku menangkap dokumen lain di samping tempat flashdisk. Karena penasaran, aku membukanya. Ternyata itu adalah catatan tentang tambang ilegal.Lubang galian tambang yang tidak terstandar dan penggunaan pekerja gelap secara paksa.Pantas saja Keluarga Tobias kaya raya, ternyata mereka membangun kekayaan di atas nyawa manusia!Aku harus mengambil bukti in

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 8

    Ibu berusaha membuka matanya. Melihatku, seulas senyum muncul di wajahnya. Dia berkata, "Jivana, kenapa kamu pulang?"Aku menggenggam tangannya erat, air mataku tak berhenti mengalir. Aku menjawab, "Bu, aku sangat merindukanmu!"Ibu menghela napas, matanya memancarkan kekhawatiran. "Jivana, kenapa kamu menangis? Apa Doni nggak memperlakukanmu dengan baik?"Aku segera menghapus air mataku dan memaksakan senyum. Aku berkata, "Nggak, dia sangat baik padaku. Aku hanya sudah terlalu lama nggak bertemu Ibu, aku sangat kangen."Mendengar hal itu, Ibu baru bisa merasa tenang. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Jivana, setelah menikah dengan Doni, kamu harus hidup dengan baik. Jangan membuat Doni marah."Kata-kata Ibu membuat hatiku semakin perih. Ibu belum tahu bahwa Doni yang paling dia percayai adalah iblis yang sesungguhnya."Baik, Bu," jawabku sambil memaksakan senyum, lalu bertanya, "Bagaimana keadaan Ibu akhir-akhir ini? Apa sudah mendingan?"Ibu menggelengkan kepala

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 7

    "Nona Jivana, aku sudah menyelidiki latar belakangmu. Kamu selalu berprestasi sejak kecil dan awalnya berencana mengambil gelar doktor.""Kamu menikah mendadak dengan Doni karena ibumu sakit keras dan butuh biaya besar, ‘kan?"Aku tertegun mendengar Jarvis telah menyelidikiku. Dengan bingung aku bertanya, "Apa maksudmu?"Jarvis tidak menjawab secara langsung, dia hanya menatapku dalam berkata, "Aku bisa memberimu sejumlah uang yang cukup untukmu dan keluargamu agar bisa hidup tenang. Tapi, kamu harus membantuku melakukan satu hal.""Apa itu?" tanyaku spontan."Curi sebuah dokumen milik Doni," jawab Jarvis dengan nada mantap dan kuat.Aku sangat terkejut. Secara refleks aku ingin menolaknya. Meski Doni telah membohongiku, bagaimanapun juga dia telah menyelamatkan nyawa ibuku. Aku tidak ingin menjadi orang yang membalas air susu dengan air tuba."Pak Jarvis, aku nggak bisa menyetujuinya." Aku menggelengkan kepala dan bangkit berdiri untuk pergi."Nona Jivana, apa kamu nggak ingin tahu k

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 6

    "Jivana, aku sudah memeriksa semua jalur yang memungkinkan untuk diperiksa, tapi catatan pernikahan Doni benar-benar kosong." Suara temanku terdengar pasrah saat melanjutkan, "Apa mungkin kamu terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh?"Tidak, tidak mungkin! Aku ingat jelas setiap kata, setiap suku kata yang diucapkan Doni! Namun, kenapa tidak ada jejaknya yang bisa ditemukan?Tepat saat itu, Doni menelepon dan mengatakan bahwa malam ini dia ada undangan pertemuan dan menyuruhku tidur lebih dulu. Pikiranku tergerak. Aku pun memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk menyelidiki latar belakangnya lebih dalam.Malam harinya, aku mengemudikan mobil menuju bar tempat pertemuan Doni. Begitu masuk, kulihat Doni dikelilingi oleh sekelompok pria dan wanita, sedang asyik berpesta dan minum. Melihat kehadiranku, Doni tertegun sejenak, lalu mengerutkan kening. "Kenapa kamu ke sini?"Aku tersenyum dan mendekat. Aku menjawab, "Kamu belum pulang, jadi aku agak khawatir."Doni tidak menyahu

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 5

    Suaraku bergetar menahan tangis, berusaha membuatnya percaya padaku. Namun, Doni sama sekali tidak bergeming. Dia melotot padaku dan berkata dengan nada dingin, "Aku nggak butuh penjelasanmu. Sekarang, kamu cepat pulang!"Setelah mengatakan hal itu, dia membanting pintu mobil dan pergi tanpa menoleh sedikit pun. Aku berdiri terpaku di tempat, merasa putus asa. Aku tahu, kali ini aku benar-benar membuatnya marah.Aku berjalan pulang dengan perasaan hancur, bayangan tatapan kecewa Doni terus berputar di kepalaku. Aku benar-benar tidak berniat mengkhianatinya, tapi dia sudah sebulan tidak menyentuhku.Aku wanita normal, aku juga punya kebutuhan biologis.Tiba-tiba, sebuah sosok yang akrab muncul di hadapanku. Orang itu adalah Jarvis! Dia bersandar pada mobilnya dan memperhatikanku dalam diam. Saat melihatku, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti."Nona Jivana, kebetulan sekali kita bertemu lagi."Suaranya yang berat dan seksi membuat jantungku berdesir. Aku menund

  • Gairah di Ketinggian Sepuluh Ribu Meter   Bab 4

    Tepat pada saat itu, parasut yang semula tenang tiba-tiba berguncang hebat. Raut wajah Jarvis berubah drastis, dia segera melepaskanku untuk mengendalikan kemudi parasut."Pegangan yang kuat! Sepertinya kita terkena turbulensi!"Suara Jarvis menggelegar di telingaku. Aku tersentak sadar, rasa ngeri menyergap dalam sekejap. Barusan, aku hampir saja tenggelam dalam buaian gairahnya dan lupa bahwa kami masih melayang di angkasa.Aku memeluk Jarvis erat-erat, tubuhku gemetar hebat karena kombinasi rasa takut dan rangsangan yang tersisa. Sambil mengendalikan parasut, Jarvis terus menenangkanku, "Jangan takut, ada aku. Kita nggak akan kenapa-kenapa."Suaranya yang mantap dan kuat sedikit meredakan kecemasanku. Seiring dengan stabilnya parasut, kami berhasil melewati krisis tersebut. Namun, hatiku dipenuhi emosi yang campur aduk. Segala yang baru saja terjadi membuatku merasa malu sekaligus bergairah. Tak pernah terlintas di benakku bahwa dalam kondisi seperti ini, aku akan melakukan k

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status