LOGINPada ketinggian sepuluh ribu meter. Kedua kakiku terbuka lebar, bersandar pada dada yang bidang dan keras, membiarkan "area sensitif" yang butuh ditenangkan milikku terekspos tanpa penutup. "Pelatih, aku ... aku lupa melepas mainan itu, rasanya sakit sekali." Jemari yang terbungkus sarung tangan hitam legam mulai meraba masuk. "Aku akan membantumu mengeluarkannya sekarang dan meredakan rasa sakitmu. Kamu mau?"
View MoreJarvis terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, "Nggak masalah, aku akan menyuruh seseorang untuk meretas sistem pengawasannya."Mendengar hal itu, aku merasa sedikit lega. Langkah selanjutnya adalah aku harus mengambil bukti penting itu secepat mungkin.Tiga malam kemudian, saat Doni pergi keluar bersama teman-temannya. Aku memastikan dia sudah pergi, lalu mengirim pesan kepada Jarvis untuk memastikan agar peretasnya memutus aliran kamera.Aku menyelinap ke ruang kerja dan membuka brankas. Flashdisk yang berisi bukti itu ada di sana. Aku mengambilnya dengan hati-hati. Jantungku berdegup sangat kencang.Tepat saat akan pergi, sudut mataku menangkap dokumen lain di samping tempat flashdisk. Karena penasaran, aku membukanya. Ternyata itu adalah catatan tentang tambang ilegal.Lubang galian tambang yang tidak terstandar dan penggunaan pekerja gelap secara paksa.Pantas saja Keluarga Tobias kaya raya, ternyata mereka membangun kekayaan di atas nyawa manusia!Aku harus mengambil bukti in
Ibu berusaha membuka matanya. Melihatku, seulas senyum muncul di wajahnya. Dia berkata, "Jivana, kenapa kamu pulang?"Aku menggenggam tangannya erat, air mataku tak berhenti mengalir. Aku menjawab, "Bu, aku sangat merindukanmu!"Ibu menghela napas, matanya memancarkan kekhawatiran. "Jivana, kenapa kamu menangis? Apa Doni nggak memperlakukanmu dengan baik?"Aku segera menghapus air mataku dan memaksakan senyum. Aku berkata, "Nggak, dia sangat baik padaku. Aku hanya sudah terlalu lama nggak bertemu Ibu, aku sangat kangen."Mendengar hal itu, Ibu baru bisa merasa tenang. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Jivana, setelah menikah dengan Doni, kamu harus hidup dengan baik. Jangan membuat Doni marah."Kata-kata Ibu membuat hatiku semakin perih. Ibu belum tahu bahwa Doni yang paling dia percayai adalah iblis yang sesungguhnya."Baik, Bu," jawabku sambil memaksakan senyum, lalu bertanya, "Bagaimana keadaan Ibu akhir-akhir ini? Apa sudah mendingan?"Ibu menggelengkan kepala
"Nona Jivana, aku sudah menyelidiki latar belakangmu. Kamu selalu berprestasi sejak kecil dan awalnya berencana mengambil gelar doktor.""Kamu menikah mendadak dengan Doni karena ibumu sakit keras dan butuh biaya besar, ‘kan?"Aku tertegun mendengar Jarvis telah menyelidikiku. Dengan bingung aku bertanya, "Apa maksudmu?"Jarvis tidak menjawab secara langsung, dia hanya menatapku dalam berkata, "Aku bisa memberimu sejumlah uang yang cukup untukmu dan keluargamu agar bisa hidup tenang. Tapi, kamu harus membantuku melakukan satu hal.""Apa itu?" tanyaku spontan."Curi sebuah dokumen milik Doni," jawab Jarvis dengan nada mantap dan kuat.Aku sangat terkejut. Secara refleks aku ingin menolaknya. Meski Doni telah membohongiku, bagaimanapun juga dia telah menyelamatkan nyawa ibuku. Aku tidak ingin menjadi orang yang membalas air susu dengan air tuba."Pak Jarvis, aku nggak bisa menyetujuinya." Aku menggelengkan kepala dan bangkit berdiri untuk pergi."Nona Jivana, apa kamu nggak ingin tahu k
"Jivana, aku sudah memeriksa semua jalur yang memungkinkan untuk diperiksa, tapi catatan pernikahan Doni benar-benar kosong." Suara temanku terdengar pasrah saat melanjutkan, "Apa mungkin kamu terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh?"Tidak, tidak mungkin! Aku ingat jelas setiap kata, setiap suku kata yang diucapkan Doni! Namun, kenapa tidak ada jejaknya yang bisa ditemukan?Tepat saat itu, Doni menelepon dan mengatakan bahwa malam ini dia ada undangan pertemuan dan menyuruhku tidur lebih dulu. Pikiranku tergerak. Aku pun memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk menyelidiki latar belakangnya lebih dalam.Malam harinya, aku mengemudikan mobil menuju bar tempat pertemuan Doni. Begitu masuk, kulihat Doni dikelilingi oleh sekelompok pria dan wanita, sedang asyik berpesta dan minum. Melihat kehadiranku, Doni tertegun sejenak, lalu mengerutkan kening. "Kenapa kamu ke sini?"Aku tersenyum dan mendekat. Aku menjawab, "Kamu belum pulang, jadi aku agak khawatir."Doni tidak menyahu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.