Cahaya biru itu tidak seharusnya ada di sana. Di tengah kegelapan pondok kayu yang lembap di pesisir Riau, pendar itu muncul dari balik kelopak mata Alana yang masih terpejam. Saat ia tersentak bangun, dunia tidak lagi terlihat sama. Garis-garis data digital melayang di udara, tumpang tindih dengan bayangan atap rumbia yang bocor."Alana?" suara Atlas terdengar berat, sarat dengan kewaspadaan. "Jangan bergerak."Alana mencoba memfokuskan pandangannya. Di hadapannya, Atlas berdiri dengan tangan memegang senter, namun ia tidak menyalakannya. Pria itu menatap lurus ke mata Alana dengan ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya: ketakutan."Apa? Ada apa?" Alana meraba wajahnya. Kulitnya terasa dingin, hampir beku."Matamu," bisik Atlas. Ia melangkah maju, jemarinya gemetar saat menyentuh pipi Alana. "Warnanya bukan cokelat lagi. Matamu... berpendar biru, Alana. Seperti lampu sirkuit yang sedang memproses data."Alana terengah, ia merangkak menuju
Read more