Elara mengerang lirih. Seolah tubuhnya sendiri menolak untuk kembali, menolak untuk membuka mata, menolak untuk menghadapi apa pun yang menunggunya di dunia nyata. Namun, kesadarannya mulai kembali perlahan. Menariknya kembali. Seperti tangan tak terlihat yang tidak memberi pilihan selain bangun.Rasa pertama yang ia sadari, bukan sakit. Melainkan, lemas. Lelah yang tidak biasa. Bukan sekadar kurang tidur. Bukan sekadar kelelahan setelah aktivitas panjang. Ini berbeda dari yang pernah ia rasakan. Seolah seluruh tubuhnya diperas habis, dipaksa bertahan melewati sesuatu yang tidak ia sadari sepenuhnya, lalu ditinggalkan begitu saja tanpa waktu untuk pulih.‘Ada apa denganku?’Dadanya terasa hangat. Tidak nyaman. Bukan panas yang membakar, tapi cukup untuk membuat napas terasa sedikit berat. Kulitnya, terasa aneh. Seperti ada sensasi tersisa. Seperti bekas sesuatu yang baru saja terjadi. Seperti terbakar halus di bawah permukaan.Dan saat ia mencoba menggerakkan jari, hanya sedikit, s
Baca selengkapnya