“Jangan berlebihan, Elara!” sentak Lucien yang tampak mulai tersulut emosi. Sedangkan, Elara masih berdiri di sana, menatap pria di hadapannya dengan mata yang mulai memanas. Bukan karena marah semata—melainkan karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang sudah lama ia tahan, dan kini perlahan mulai meluap.Lucien menghela napas, kali ini lebih jelas terdengar.“Aku hanya lelah dan ingin istirahat,” lanjutnya, nadanya sedikit ditekan, seolah mencoba meredam emosi yang mulai naik. “Begitu saja tidak boleh?”Elara menghela napas pelan. Namun, suaranya tetap keluar. Lebih jujur dari yang ia rencanakan. “Apa bersamaku itu mengganggumu?”Lucien tidak langsung menjawab. Tatapan pria itu berubah sedikit, namun tidak cukup untuk dibaca.“Membuatmu risih?” lanjut Elara. Nada suaranya pelan. Namun, ia menekan seluruh kata yang meluncur dari bibirnya. “Kalau begitu… apa gunanya aku di sini?”Elara telah menanggalkan harga dirinya. Demi memenuhi keinginan Lucien. Namun, kini pria itu malah se
Read more