Raven duduk di kursi depan. Tangannya stabil di setir. Tatapannya lurus ke jalan. Seperti biasa—tenang, fokus, tidak banyak bicara. Ia tidak ikut dalam percakapan. Tidak mencampuri suasana. Namun, kehadirannya selalu terasa.Di kursi belakang, Elara duduk di sisi jendela. Tubuhnya sedikit bersandar. Namun, tidak benar-benar santai. Tangannya saling bertaut di atas pangkuan. Jemarinya bergerak pelan. Kadang saling mengusap. Kadang saling menekan. Gelisah.Di sampingnya, Lucien tampak sangat berbeda. Pria itu duduk tegak. Rapi. Wangi parfum tipisnya tercium samar. Ekspresinya hidup. Lebih hidup dibanding beberapa hari terakhir. Seolah malam ini memberinya energi.Sesekali Lucien membuka ponselnya. Menatap layar. Membaca sesuatu. Mengetik cepat. Lalu tersenyum tipis. Seolah ada sesuatu yang ia tunggu. Seolah ada sesuatu yang ia nantikan sejak lama. Dan kontras itu terasa. Sangat jelas.“Elara.” Suara Lucien memecah keheningan. Tanpa menoleh.“Ya?” jawab Elara pelan.“Kamu sudah siap, kan
Read more