Pintu ruang rawat masih terbuka. Pria paruh baya itu masih berdiri di ambang pintu dengan sekeranjang buah di tangannya. Tatapannya tertuju lurus kepada Elara. Ada kerinduan yang telah dipendam selama bertahun-tahun. Ada penyesalan yang tak pernah sempat diucapkan. Dan ada harapan kecil, bahwa putrinya benar-benar telah kembali.Elara menatap wajah ayahnya cukup lama. Sepuluh tahun. Waktu yang begitu panjang. Sepuluh tahun yang telah merenggut begitu banyak hal dari hidup mereka. Perlahan, bibir Elara bergetar. Air matanya kembali mengalir. Namun, kali ini bukan karena kesedihan. Melainkan karena kerinduan yang akhirnya menemukan tempat untuk pulang.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Elara mengangkat kedua tangannya. Merentangkannya ke arah pria yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan.Sang ayah membeku. Ia tidak bergerak. Seolah takut semua ini hanyalah mimpi. Matanya mulai memerah."Yah...” Suara Elara lirih. Namun, cukup untuk meruntuhkan seluruh pertahanan pria itu.Ia
Read more