Angin berembus pelan. Membawa aroma bunga yang asing. Elara berdiri diam di tengah taman luas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Rumput hijau terbentang rapi. Air mancur kecil berdiri di tengah taman.Dan di kejauhan, berdiri rumah besar bergaya klasik dengan dinding putih gading dan jendela-jendela tinggi yang memantulkan cahaya sore.Tempat itu indah. Terlalu indah. Namun anehnya, Elara merasa familiar. Seolah ia pernah berada di sana. Pernah berjalan di jalan setapak batu itu. Pernah duduk di bangku taman dekat pohon besar itu. Pernah tertawa di sana.Namun, kapan?Elara mengernyit pelan.Kepalanya terasa sedikit berat. Dan tepat saat itulah, suara langkah kaki terdengar dari belakang.“Sayang.”Tubuh Elara menegang. Satu kata itu terdengar begitu dekat. Begitu alami. Seolah memang biasa diucapkan padanya. Perlahan, ia menoleh. Dan napasnya langsung tertahan. Raven. Pria itu berjalan mendekat ke arahnya. Namun, bukan Raven yang biasa ia lihat. Bukan Raven dengan pakaian sederh
Read more