Pintu ruang bersalin terbuka. Juan melangkah keluar dengan mata sembab, wajah basah oleh air mata namun bibirnya justru tertarik ke atas. “Haha…” tawanya pecah, terdengar aneh, campuran lega, haru, dan nyaris gila. Leon yang berdiri mondar-mandir langsung menoleh. Melihat ekspresi Juan, darahnya seketika mendidih. Ia maju dan mencengkeram kerah kemeja Juan keras. “Harusnya aku,” geram Leon. “Aku yang di dalam. Aku yang nemenin Anya!” Juan tak melawan. Ia hanya menatap Leon dengan mata merah, lalu berkata pelan tapi mantap, “Anaknya lahir. Sehat. Dua-duanya.” Ia tersenyum lagi, air mata kembali jatuh. “Anya hebat. Dia berjuang… hidup dan mati.” Cengkeraman Leon melemah. Tangannya jatuh perlahan. Dadanya naik turun. “Anya…” gumamnya lirih. Tanpa kata lagi, Leon menarik Juan ke dalam pelukan. Keduanya berpelukan erat, dua pria yang selama berbulan-bulan memendam amarah, cemburu, dan takut yang sama. Mereka tertawa sambil menangis. “Kita ikut berjuang,” ucap Juan terengah.
Last Updated : 2026-02-09 Read more