Setelah jam kuliah berakhir, Emily langsung menuju tempat praktik ibunya. Langkahnya tergesa, pikirannya penuh. Begitu sampai, ia mengetuk singkat lalu langsung membuka pintu. Tok tok tok. “Ma...” Emily masuk dan tanpa ragu memeluk ibunya. Dr. Melita terkejut sebentar, lalu tersenyum lembut. “Kamu kenapa ke sini?” Emily masih memeluknya. “Ada yang mau aku omongin sama Mama.” Dr. Melita mengusap rambut putrinya dengan tenang. “Kenapa gak nanti aja di rumah?” Emily menggeleng cepat. “Aku gak tahan pengen ngomong sekarang.” Dr. Melita menarik kursi, duduk, lalu memandang Emily penuh perhatian. “Ya sudah. Ada apa?” Emily menarik napas panjang, lalu mulai bercerita. Tentang Juan. Tentang bagaimana pria itu terus mengejar Anya, tak peduli berapa kali Anya menghindar, menolak, bahkan bersikap dingin. Tentang Anya yang makin sering diam, memilih menjauh, dan gak perduli. “Aku kasihan sama Kak Juan, Ma,” suara Emily melembut. “Anya itu gak jahat, tapi namanya perasaan mana bisa dipaks
Last Updated : 2026-02-08 Read more