LOGINNares kembali masuk ke dalam ruangan. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Tatapannya langsung tertuju pada Anya. Gadis itu terbaring tenang, tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Napasnya teratur, wajahnya pucat namun terlihat lebih damai dibanding beberapa jam lalu. Nares menghembuskan napas lega. Ia duduk di sisi ranjang, mengusap rambut Anya dengan gerakan lembut, seolah takut sentuhan sedikit saja akan membangunkannya. “Tidur yang nyenyak ya,” ucapnya pelan. Tangannya masih berada di kepala Anya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Jhon. 'Tuan, sudah siap.' Nares menatap layar itu beberapa detik, lalu kembali menatap Anya. Wajah yang membuatnya rela menjadi apa pun pelindung, pisau, bahkan monster.Dirga berdiri di sisi ranjang, menurunkan stetoskopnya perlahan. Anya masih terbaring dengan infus terpasang, wajahnya pucat namun napasnya sudah lebih teratur. Leon berdiri tak jauh, sementara Nares menatap Dirga dengan sorot tajam menuntut jawaban. “Kondisinya kembali kambuh,” ujar Dirga akhirnya, suaranya serius. “Bukan karena fisik. Secara medis, tubuh Anya membaik. Tapi ini murni dipicu oleh trauma.” Nares mengepalkan tangan. “Kenapa bisa?.” Dirga menarik napas. “Anya mengalami Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Gangguan stres pascatrauma. Setiap kali otaknya menangkap rangsangan yang mirip dengan kejadian masa lalu wajah, suara, bahkan sekadar ingatan tubuhnya bereaksi seolah kejadian itu terulang.” Leon mengernyit. “Makanya dia tiba-tiba histeris?” “Ya,” jawab Dirga. “Bagi Anya, itu bukan kenangan. Itu ancaman yang terasa nyata.” Nares menunduk, rahangnya mengeras. “Kalau begitu, bagaimana cara mencegahnya?” Dirga menatap Nares lurus. “Kamu harus menemukan
Nares dengan hati-hati mengangkat tubuh Anya dan memangkunya. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras. Ia melangkah cepat menuju kamar, berusaha menahan amarah yang bergejolak di dadanya. Namun di tengah langkahnya, telinganya menangkap percakapan yang membuat darahnya mendidih. Pelayan bernama Mila berbisik dengan nada sinis, “Nona Anya benar-benar sudah gila.” “Sst!” Resty menegurnya pelan tapi tegas. “Jaga ucapanmu. Jangan bicara sembarangan.” “Aku cuma bilang yang sebenarnya,” balas Mila ketus. “Kamu lihat sendiri kan? Berani-beraninya dia menampar tuan muda. Dia sudah gila.” “Nona itu sakit,” bantah Resty. “Bukan gila.” Mila mendengus, lalu tertawa kecil. “Sakit jiwa, maksudmu.” Langkah Nares berhenti. Ia menoleh perlahan. Tatapan matanya membuat udara di sekitarnya terasa membeku. Mila dan Resty langsung terdiam. Wajah mereka pucat. Tanpa sepatah kata, Nares kembali melangkah, mengantarkan Anya ke kamar dan membaringkannya dengan hati-hati di ranjang. Tak lama kemudian, D
Anya menggeliat pelan saat membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Nares yang berada tepat di atasnya terlalu dekat, terlalu tenang, dan jelas sedang menatapnya sejak lama. “Kak… udah bangun?” tanya Anya, suaranya masih serak oleh sisa kantuk. Nares mengangguk ringan. “Aku nggak terbiasa bangun siang.” Anya mendengus kecil. Tatapannya bergeser ke arah cahaya matahari yang menembus tirai kamar. Ucapan Nares jelas terdengar seperti sindiran halus untuknya. “Huft… iya, iya,” gumamnya. Nares bangkit sedikit. “Kakak mandi dulu.” “Mandi ya tinggal mandi lah,” jawab Anya santai, masih setengah malas bergerak. Nares menoleh, lalu melirik ke bawah. Tangan dan kaki Anya ternyata masih melingkar di tubuhnya, seolah semalaman ia menjadikannya bantal hidup. “Kalau begitu,” kata Nares datar, “bisa dilepaskan dulu?” Anya tersentak. Matanya membulat. “Ah...maaf!” Ia buru-buru menarik tangan dan kakinya. Dalam hati ia menjerit panik. Astaga… malu banget. Aku tidur begi
Semua pelayan berjajar rapi di halaman mansion saat mobil berhenti. Pintu mobil dibukakan oleh kepala pelayan, Pak Liem, dengan sikap hormat. “Silakan, Tuan.” Pak Liem membantu mengeluarkan kursi roda. Namun sebelum Anya dipindahkan, Nares sudah lebih dulu memangku tubuh Anya dengan hati-hati, mengangkatnya seolah tak peduli ada puluhan pasang mata yang melihat. Ia lalu menurunkan Anya perlahan ke kursi roda. Begitu roda kursi menyentuh lantai, seluruh pelayan menunduk bersamaan. “Selamat datang, Nona Besar.” Anya terkejut. Ia menoleh ke Nares, alisnya mengernyit kecil. “Kak… kamu sengaja?” bisiknya. Nares menjawab santai, “Cuma sambutan kecil.” Leon yang baru turun dari mobil mendengus. “Cari perhatian.” Anya melirik Leon sekilas, tapi Nares sudah mendorong kursi rodanya masuk ke dalam mansion, meninggalkan Leon di belakang. Leon memutar bola matanya kesal. “Kamu selalu menguasai Anya,” gumamnya. Di ruang makan, meja panjang sudah dipenuhi hidangan. Dari makanan
Langkah Anya terasa berhenti meski kursi rodanya masih bergerak. Dadanya bergetar. Bukan takut. Bukan marah. Sesuatu yang aneh. Seperti ada tarikan halus di dalam tubuhnya. Getaran yang membuat napasnya tercekat. Tangannya refleks menegang. Nares langsung menyadarinya. Ia berhenti mendorong kursi roda. “Ada apa?” tanya Nares pelan. Anya cepat-cepat menggeleng. “Nggak… nggak apa-apa. Cuma grogi mau pulang.” Nares menunduk, mengusap kepala Anya dengan lembut. “Tenang.kita pulang ke mansion.” Leon sempat melirik ke arah wanita paruh baya itu. “Itu Nyonya Hasan.” gumamnya. Anya menelan ludah. “Ibu Aldo?” tanyanya pelan. Leon mengangguk. “Iya. Pantas kelihatan cemas. Anak satu-satunya mengalami kengerian kayak gitu.” Kondisi Aldo menjadi konsumsi publik saat di temukan keluarganya dirumah sakit. Banyak yang berpikir apa yang aldo alami disebabkan persaingan bisnis. Apalagi keluarga Hasan sedang naik daun, perusahaan meraka melaju pesat sejak lima tahun terakhir
Untuk menghindari Rosa yang bisa datang sesuka hati dan kembali membuat onar, Nares memutuskan membawa Anya ke mansion miliknya. Beberapa hari yang lalu... Nares baru saja masuk ke rumah tua keluarga Mahesa. Langkahnya berat, wajahnya dingin. Di ruang tengah, Jhon sudah menunggunya dengan ekspresi tegang. Beberapa menit lalu, Nares memerintahkannya mengambil berkas di ruang kerja. Namun saat Jhon masuk, yang ia temukan bukan hanya berkas melainkan kekacauan. Bingkai foto favorit Nares pecah. Foto yang selalu ia bawa setiap perjalanan bisnis. Foto Anya. Jhon yang terkejut langsung menghubungi Nares. Sekarang, Nares berdiri di depan ruang kerja itu. “Ada apa, Jhon?” tanya Nares datar, tapi nadanya berbahaya. Tanpa menjawab, Jhon membuka pintu ruang kerja. KRAK. Pemandangan itu langsung menyulut amarah Nares. Kaca berserakan di lantai. Bingkai foto hancur. Wajah Anya di foto itu terbelah oleh retakan. Napas Nares berat. “Siapa,” ucapnya pelan, sangat pelan,







