Erik mengusap wajahnya dengan telapak tangan, sedikit memijit pelipisnya yang terasa pusing, entah seberapa lama ia tidur, tapi melihat gadis itu baik-baik saja kantuknya kemudian menghilang. "Aku di sini untukmu," balas Erik dengan tersenyum. Kalila ikut tersenyum, sebelum akhirnya merengutkan wajah saat teringat akan kekesalannya, atas beberapa hari ini pria itu yang tidak pernah menghubunginya. "Kau itu kemana saja," omel Kalila. Erik menempelkan telunjuknnya pada bibir Kalila, membuat omelan gadis itu terhenti seketika. "Jangan terlalu banyak bicara, Sayang. Kau masih sakit," ucapnya. Dan Kalila tampak menahan senyum, hingga akhirnya suster yang datang membawa sarapan untuk gadis itu membuat keduanya menoleh. "Sarapan dulu setelah itu minum obat ya, Nona Kalila," ucap sang suster ramah, tidak lupa juga tersenyum pada Erik yang hanya mendapat sedikit balasan dari pria itu. Kalila menoleh pada mangkuk kemudian sedikit mengernyit. "Aku tidak suka bubur," keluhnya. Belum sempat
Baca selengkapnya